Tekanan Borthwick Meningkat: Henry Slade Kembali ke Starting XV Inggris Hadapi Fiji
Baca dalam 60 detik
- Henry Slade, yang absen di seluruh Six Nations, dimasukkan ke starting line-up Inggris untuk laga krusial melawan Fiji demi mengakhiri lima kekalahan beruntun.
- Pelatih Steve Borthwick melakukan dua perubahan, termasuk memasukkan Guy Pepper dan tiga pemain debutan di bangku cadangan.
- Kekalahan beruntun menguji kepercayaan RFU terhadap Borthwick yang telah dipertahankan hingga Piala Dunia 2027.

Pelatih kepala tim nasional rugby Inggris, Steve Borthwick, mengambil langkah berani dengan mengembalikan Henry Slade ke starting XV saat menjamu Fiji akhir pekan ini, di tengah tekanan untuk memutus rentetan lima kekalahan beruntun di level internasional. Keputusan ini menjadi sinyal bahwa Borthwick tidak ingin mengambil risiko di laga yang dipandang sebagai momentum kebangkitan.
Slade, yang terakhir kali menjadi starter saat Inggris mengalahkan Argentina pada November lalu, sama sekali tidak dimainkan selama kampanye Six Nations awal tahun ini. Pemain berusia 33 tahun itu mengaku frustrasi tersisih dari skema lini tengah, namun performa apiknya bersama Exeter Chiefs—mengantar klub ke final Premiership—membuat Borthwick tak bisa mengabaikannya. Kembalinya Slade memungkinkan Tommy Freeman kembali ke posisi sayap yang lebih alami, setelah setahun dicoba sebagai outside centre.
Perubahan lain terjadi di posisi openside flanker, di mana Guy Pepper menggantikan Tom Curry. Sementara itu, tiga pemain tanpa caps—Benhard Janse van Rensburg, Noah Caluori, dan George Kloska—bersiap menjalani debut internasional dari bangku cadangan. Van Rensburg, yang lahir di Pretoria dan pernah membela U-20 Afrika Selatan, lolos membela Inggris melalui aturan residensi lima tahun. Meski dianggap sebagai salah satu pemain terbaik Premiership, pemilihannya menuai kritik karena menggeser prospek lokal.
Kekalahan dari Afrika Selatan di Johannesburg memperpanjang tren buruk Inggris setelah Six Nations yang suram—kalah dari Skotlandia, Irlandia, Italia, dan Prancis. Meski Rugby Football Union (RFU) telah memberikan dukungan penuh kepada Borthwick hingga Piala Dunia 2027 di Australia, kepercayaan itu mulai diuji. Jika Inggris kembali tumbang, bukan tidak mungkin suporter dan federasi mulai mempertanyakan arah tim.
Bagi penggemar rugby di Indonesia, laga ini menarik karena menunjukkan bagaimana tekanan di level tertinggi olahraga bisa mengubah komposisi tim secara drastis. Selain itu, kehadiran pemain seperti Van Rensburg yang memanfaatkan aturan residensi mengingatkan pada fenomena naturalisasi di sepak bola Indonesia—sebuah isu yang kerap memicu perdebatan serupa tentang kesempatan bagi talenta lokal.
Pelatih Borthwick mengakui tantangan dari Fiji, yang dikenal sebagai tim berbahaya dengan gaya bermain eksplosif. "Kami tahu Fiji akan memberikan perlawanan sengit. Mereka adalah tim berbahaya yang menuntut performa terbaik dari kami," ujarnya. Meski Inggris unggul head-to-head 9-1, Fiji pernah mengejutkan tuan rumah di stadion yang sama pada 2023, sebelum akhirnya kalah tipis 30-24 di perempat final Piala Dunia.
Dengan skuad yang diperkuat Marcus Smith di full-back dan Jack van Poortvliet sebagai scrum-half, Inggris berharap bisa menguasai permainan udara—area yang menjadi kelemahan saat melawan Springboks. Kehadiran Caluori, yang memiliki lompatan dan tangkapan di atas kepala setinggi 6 kaki 4 inci, di bangku cadangan memberi opsi tambahan. Pertandingan ini akan menjadi ujian nyata apakah perubahan yang dilakukan Borthwick cukup untuk mengembalikan kepercayaan diri tim.
Setelah laga melawan Fiji, Inggris dijadwalkan bertandang ke Argentina pada 18 Juli untuk putaran terakhir Nations Championships musim panas ini. Akankah Borthwick mampu membalikkan keadaan, atau justru kekalahan keenam akan menjadi awal dari perubahan besar di tubuh rugby Inggris?



