Anggaran Liburan Musim Panas Warga Jepang Anjlok untuk Pertama Kali dalam Lima Tahun
Baca dalam 60 detik
- Rata-rata anggaran liburan musim panas warga Jepang turun 19.756 yen menjadi 85.145 yen, pertama kali dalam lima tahun, akibat tekanan inflasi.
- Sebanyak 20,7% responden berencana memangkas anggaran, sementara 41,6% tidak memiliki rencana liburan sama sekali, naik dari tahun lalu.
- Fenomena ini mencerminkan pergeseran prioritas keuangan rumah tangga di tengah kenaikan harga, yang juga relevan dengan pola konsumsi di Indonesia.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, rata-rata anggaran liburan musim panas warga Jepang mengalami penurunan signifikan. Survei terbaru dari Meiji Yasuda Life Insurance Co. mengungkapkan bahwa anggaran rata-rata turun hampir 20.000 yen (sekitar Rp2,1 juta) dibandingkan tahun lalu, menjadi hanya 85.145 yen (sekitar Rp9,1 juta). Penurunan ini menjadi sinyal kuat bahwa rumah tangga Jepang mulai merasakan dampak nyata dari inflasi yang terus meninggi.
Sepanjang tahun lalu, anggaran liburan musim panas justru menunjukkan tren kenaikan meskipun tekanan harga meningkat. Namun, survei yang dilakukan pada 9-12 Juni 2025 terhadap 1.120 responden berusia 20-an hingga 50-an ini mencatat titik balik. Sebanyak 20,7 persen responden menyatakan akan mengurangi anggaran liburan, sementara hanya 12,3 persen yang berencana menambahnya. Tahun lalu, rata-rata anggaran mencapai rekor tertinggi 104.901 yen.
Alasan utama pemangkasan anggaran adalah tekanan harga yang menggerus keuangan rumah tangga, disusul oleh penurunan pendapatan. Lebih mencengangkan, 41,6 persen responden mengaku tidak memiliki rencana untuk bepergian atau berlibur sama sekali selama musim panas, naik dari 35,3 persen pada tahun sebelumnya. Cuaca panas yang ekstrem dan inflasi menjadi alasan dominan di balik keputusan ini.
"Masyarakat semakin sadar untuk mempertahankan keuangan rumah tangga mereka," ujar Yukihiro Morita, ekonom dari Meiji Yasuda Research Institute. Pernyataan ini menggarisbawahi pergeseran perilaku konsumen Jepang yang lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang, terutama untuk kegiatan rekreasi.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Jepang. Di Indonesia, tren serupa mulai terlihat di kalangan kelas menengah. Survei Bank Indonesia pada Juni 2025 menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menurun akibat kekhawatiran terhadap harga pangan dan daya beli. Banyak keluarga Indonesia memilih menunda liburan atau mengurangi frekuensi makan di luar sebagai respons terhadap inflasi. Jika di Jepang cuaca panas menjadi faktor tambahan, di Indonesia musim kemarau panjang juga mempengaruhi minat bepergian.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi global memiliki dampak universal terhadap perilaku konsumen. Namun, respons kebijakan di kedua negara berbeda. Jepang mengandalkan subsidi energi dan kenaikan upah bertahap, sementara Indonesia mengandalkan bantuan sosial dan stabilisasi harga pangan. Pertanyaan besarnya, akankah tren penghematan ini berlanjut hingga liburan akhir tahun? Jika inflasi belum mereda, bukan tidak mungkin pola konsumsi masyarakat akan semakin berorientasi pada kebutuhan pokok, meninggalkan sektor pariwisata dan rekreasi dalam tekanan.



