Imbas Konflik Timur Tengah, Imbal Hasil Obligasi Jepang Tembus Level Tertinggi 29 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun melonjak ke 2,9%, level tertinggi sejak 1996, dipicu eskalasi konflik AS-Iran di Timur Tengah.
- Kenaikan harga minyak mentah akibat ketegangan geopolitik memicu kekhawatiran inflasi di Jepang, negara pengimpor energi besar, dan mendorong aksi jual obligasi global.
- Ketidakpastian kebijakan fiskal di bawah PM Takaichi serta tekanan pada Bank of Japan untuk tidak menaikkan suku bunga menambah beban pasar obligasi Jepang.

Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun menembus level 2,9 persen pada perdagangan Kamis (9/7), mencetak rekor tertinggi dalam 29 tahun terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu aksi jual besar-besaran di pasar obligasi global.
Eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak mentah melonjak, memicu kekhawatiran inflasi di Jepang yang sangat bergantung pada impor energi. Kenaikan imbal hasil obligasi terjadi karena harga obligasi bergerak berlawanan dengan imbal hasil. "Harga minyak yang lebih tinggi juga mendorong imbal hasil Treasury AS, sehingga dampaknya bersifat global," ujar Takuya Onizawa, strategis obligasi di Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities.
Selain faktor eksternal, tekanan pada obligasi Jepang juga berasal dari kekhawatiran domestik terhadap kesehatan fiskal di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Sanae Takaichi. Kebijakan fiskal yang disebut "responsif dan proaktif" dinilai berpotensi memperlebar defisit anggaran. Kekhawatiran bahwa pemerintah akan menekan Bank of Japan (BOJ) untuk tidak menaikkan suku bunga semakin memperburuk sentimen, setelah draf cetak biru kebijakan ekonomi pekan lalu memicu spekulasi tersebut.
Draf tersebut menyebutkan bahwa "pengelolaan yang tepat" dari kebijakan moneter "sangat penting" untuk "pertumbuhan ekonomi yang kuat". Namun, menurut sumber yang mengetahui masalah ini, pemerintah tengah mempertimbangkan untuk mengubah redaksi. Masahiro Ichikawa, kepala strategis pasar di Sumitomo Mitsui DS Asset Management Co., menilai bahwa merevisi kata-kata untuk memberi kesan bahwa pemerintah tidak ingin investor khawatir tentang kebijakan moneter justru akan "membuat pasar semakin curiga".
Di pasar valuta asing, dolar AS bertahan di kisaran 162 yen rendah, didukung oleh kekhawatiran Timur Tengah. Namun, pergerakan dolar terbatas karena pelaku pasar waspada terhadap potensi intervensi otoritas Jepang untuk mencegah pelemahan yen lebih lanjut. Sementara itu, bursa saham Tokyo justru ditutup menguat, dengan indeks Nikkei sempat naik lebih dari 2 persen. Saham-saham semikonduktor berbobot besar melesat setelah kenaikan di Wall Street semalam, didorong oleh laporan bahwa China berencana mengizinkan perusahaan AI terbesarnya membeli chip Nvidia H200 dalam jumlah terbatas.
Bagi Indonesia, lonjakan imbal hasil obligasi Jepang menjadi sinyal kenaikan biaya pendanaan global. Sebagai negara dengan utang luar negeri yang cukup besar, Indonesia perlu mencermati potensi dampak rambatan melalui arus modal dan nilai tukar. Jika imbal hasil obligasi global terus naik, tekanan pada rupiah dan pasar obligasi domestik bisa meningkat. Selain itu, konflik Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak juga berpotensi memperburuk defisit transaksi berjalan Indonesia.
Ke depan, pasar akan mencermati langkah BOJ dalam menanggapi tekanan inflasi dan intervensi pemerintah. Pertanyaan kuncinya: akankah BOJ tetap mempertahankan suku bunga rendah di tengah tekanan pasar, atau justru terpaksa menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan?



