Rupiah Tembus Rp18.070, Investor Asing Justru Menahan Diri
Baca dalam 60 detik
- Rupiah ditutup melemah 0,44% ke Rp18.070 per dolar AS, level terlemah dalam sebulan terakhir dan kembali menembus batas psikologis Rp18.000.
- Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk dan lonjakan harga minyak mendorong penguatan dolar AS, meningkatkan tekanan pada mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
- CEO Leeds Property menilai ketidakstabilan rupiah membuat investor asing bersikap wait and see, karena khawatir pelemahan lebih lanjut akan menggerus ROI proyek industri.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali terperosok ke level terendah dalam satu bulan terakhir, menembus Rp18.070 per dolar AS pada perdagangan Kamis (9/7/2026). Pelemahan ini memicu kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar, terutama investor asing yang mulai menahan diri untuk tidak berekspansi di sektor riil Indonesia.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,44% setelah sempat menyentuh Rp18.095 pada siang hari. Posisi ini menjadi yang terlemah sejak 9 Juni 2026, sekaligus mengonfirmasi bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlanjut. Indeks dolar AS (DXY) justru terpantau sedikit melemah 0,10% ke level 100,892, menunjukkan bahwa pelemahan rupiah tidak sepenuhnya disebabkan oleh penguatan dolar secara global.
Analis menilai tekanan tambahan berasal dari faktor eksternal, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk yang mendorong permintaan aset safe haven. Lonjakan harga energi juga memicu spekulasi bahwa The Federal Reserve mungkin akan mempercepat kenaikan suku bunga untuk mengendalikan inflasi, sehingga dolar AS tetap diminati.
Namun, pelemahan rupiah tidak serta-merta menjadi berkah bagi investasi asing. Alih-alih memanfaatkan harga aset yang lebih murah dalam denominasi dolar, investor asing justru mengambil sikap wait and see. CEO Leeds Property, Hendra Hartono, mengungkapkan bahwa ketidakstabilan nilai tukar justru merusak kalkulasi jangka panjang para investor, terutama terkait tingkat pengembalian investasi (ROI).
โInvestor asing tidak akan langsung masuk saat rupiah gonjang-ganjing. Mereka justru menghitung seberapa dalam rupiah bisa jatuh. Jika beli sekarang dan rupiah terus melemah, mereka akan rugi saat mengonversi kembali ke dolar,โ ujar Hendra. Ia menambahkan bahwa sektor industri biasanya menjadi tahap akhir investasi asing, setelah melalui siklus panjang: dari menyewa hotel, berkonsultasi dengan pengacara korporat, hingga menyewa kantor dan apartemen servis. Hanya jika stabilitas politik dan ekonomi terjamin, mereka akan berani membangun pabrik.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi pengingat bahwa daya tarik investasi tidak hanya ditentukan oleh nilai tukar yang murah, tetapi juga oleh stabilitas makroekonomi. Jika tekanan terhadap rupiah berlanjut, bukan tidak mungkin target investasi asing langsung (FDI) tahun ini akan sulit tercapai. Pertanyaan besarnya, akankah Bank Indonesia dan pemerintah mampu menahan laju pelemahan rupiah sebelum kepercayaan investor kembali pulih?



