Kereta Tehran-Mashhad Dihentikan di Tengah Serangan AS Jelang Pemakaman Khamenei
Baca dalam 60 detik
- Layanan kereta api antara Tehran dan Mashhad dihentikan setelah serangan AS yang disebut menargetkan jembatan strategis di rute tersebut.
- Insiden ini terjadi beberapa jam sebelum pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan AS-Israel pada Februari lalu.
- Gencatan senjata yang disepakati kedua negara terancam rentan setelah saling serang berlanjut untuk malam kedua berturut-turut.

Layanan kereta api yang menghubungkan ibu kota Iran, Tehran, dengan kota suci Mashhad resmi dihentikan pada Kamis (9/7) setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara di rute tersebut, menurut laporan televisi negara Iran. Penghentian ini terjadi hanya beberapa jam sebelum pemakaman Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu, digelar di kota kelahirannya, Mashhad.
Perusahaan Kereta Api Republik Islam Iran menyebut serangan itu sebagai "tindakan kriminal oleh musuh AS-Israel" dan mengirimkan tim perbaikan ke lokasi. Sementara itu, otoritas setempat menyiapkan transportasi darat alternatif bagi para penumpang yang terlantar. Garda Revolusi Iran sebelumnya menuding AS menargetkan "dua jembatan di provinsi timur menuju Mashhad" sebagai upaya mengalihkan perhatian dari prosesi pemakaman Khamenei.
Pemakaman di Mashhad menjadi puncak dari rangkaian upacara duka yang berlangsung beberapa hari. Jenazah Khamenei, yang memimpin Iran selama lebih dari tiga dekade, sebelumnya disemayamkan di Tehran sebelum diarak melalui ibu kota dan kota-kota suci Irak, Najaf dan Karbala. Ketegangan antara Washington dan Tehran kian memuncak setelah serangan 28 Februari yang memicu perang besar di Timur Tengah.
Meskipun Washington dan Tehran telah menyetujui gencatan senjata dan nota kesepahaman menuju kesepakatan damai jangka panjang, Kamis malam menandai malam kedua berturut-turut terjadinya saling serang. Komando Pusat AS menyatakan telah menghantam sekitar 90 target militer Iran, sementara Garda Revolusi mengklaim telah membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain.
Bagi Indonesia, eskalasi konflik Iran-AS ini memiliki implikasi langsung terhadap stabilitas harga minyak dunia dan keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia rentan terhadap gejolak pasokan akibat ketegangan di kawasan Teluk. Selain itu, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah juga berpotensi mempengaruhi arus perdagangan dan investasi Indonesia di kawasan tersebut.
Para analis menilai bahwa serangan terhadap infrastruktur transportasi seperti jalur kereta Tehran-Mashhad menunjukkan perluasan target militer AS di luar instalasi militer murni. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk melumpuhkan mobilitas logistik Iran, terutama di momen sensitif seperti pemakaman pemimpin tertinggi. Namun, serangan balasan Garda Revolusi terhadap pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain mengindikasikan bahwa Iran masih memiliki kapasitas untuk merespons secara militer.
Ke depan, pertanyaan kunci adalah apakah gencatan senjata yang rapuh ini dapat bertahan di tengah saling serang yang terus berlanjut. Jika eskalasi berlanjut, bukan tidak mungkin konflik terbuka skala penuh akan kembali terjadi, mengancam stabilitas kawasan dan perekonomian global. Indonesia, bersama negara-negara lain, tentu berharap agar kedua pihak menahan diri dan kembali ke meja perundingan.



