IHSG Menguat Tipis di Tengah Eskalasi Timur Tengah dan Proyeksi IMF yang Suram
Baca dalam 60 detik
- IHSG ditutup naik 0,21% ke 5.885,69 pada sesi pertama Kamis (9/7), didorong sektor barang baku dan energi.
- Serangan AS ke Iran dan pemangkasan proyeksi pertumbuhan global oleh IMF menjadi sentimen negatif yang menekan pasar.
- IMF memperkirakan ekonomi Indonesia tetap tumbuh 5,0% di 2026, namun inflasi global diproyeksikan naik ke 4,7%.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri sesi pertama perdagangan Kamis (9/7/2026) di zona hijau, meskipun tekanan dari eskalasi konflik Timur Tengah dan revisi turun proyeksi ekonomi global oleh Dana Moneter Internasional (IMF) masih membayangi.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG ditutup pada level 5.885,69, naik 12,32 poin atau 0,21% dari penutupan sebelumnya. Sebanyak 319 saham tercatat menguat, 268 saham melemah, dan 199 saham stagnan, menandakan mulai meredanya tekanan jual. Kapitalisasi pasar bursa tercatat sebesar Rp10.309 triliun.
Kenaikan IHSG ditopang oleh sektor barang baku, energi, dan konsumer yang mencatatkan penguatan tertinggi. Sementara itu, sektor kesehatan, teknologi, properti, dan finansial justru mengalami kontraksi. Emiten seperti AMMN, BRMS, BUMI, VKTR, dan BMRI menjadi motor penggerak indeks.
Di tengah penguatan tipis ini, pelaku pasar masih mencermati ketegangan geopolitik yang memanas. Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke Iran pada Rabu (8/7/2026) sebagai balasan atas serangan terhadap tiga kapal dagang di Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan sementara dengan Iran telah berakhir dan mengancam respons yang lebih keras. Iran pun dilaporkan menyiapkan serangan balasan dan mempertimbangkan langkah drastis seperti keluar dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) atau menutup Selat Bab el-Mandeb.
Eskalasi ini mendorong harga minyak mentah Brent naik lebih dari US$1 per barel ke kisaran US$79,28. Kenaikan harga energi menjadi beban tambahan bagi perekonomian global, terutama negara importir minyak seperti Indonesia.
IMF, dalam laporan World Economic Outlook terbaru yang dirilis Rabu, memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3%, lebih rendah dari 3,5% pada 2025. Lembaga tersebut menyebut konflik AS-Iran-Israel sebagai risiko terbesar, namun pesatnya investasi di bidang kecerdasan buatan (AI) dan teknologi dinilai mampu meredam dampak negatifnya. Inflasi global diperkirakan naik menjadi 4,7% pada 2026, dari 4,1% tahun sebelumnya, seiring kenaikan harga komoditas.
Bagi Indonesia, IMF masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan 5,0% pada 2026 dan 5,1% pada 2027. Namun, ketidakpastian global yang tinggi berpotensi mengganggu stabilitas pasar keuangan domestik. Investor pun disarankan untuk mencermati pergerakan rupiah dan harga komoditas dalam beberapa pekan ke depan.
Dengan volatilitas yang diperkirakan masih tinggi, pertanyaan yang mengemuka adalah: mampukah IHSG bertahan di level 5.800-an jika konflik Timur Tengah semakin meluas dan harga minyak terus meroket?



