IHSG Lesu, Rupiah Tembus Rp 18.077: S&P Pantau Status Investasi RI
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 0,16% ke level 5.863 pada perdagangan Kamis pagi, sementara rupiah anjlok ke Rp 18.077 per dolar AS.
- Tekanan pasar dipicu oleh aksi jual investor asing dan kekhawatiran terhadap pemantauan status investasi Indonesia oleh S&P Global Ratings.
- Kenaikan harga minyak mendekati USD 80 per barel akibat eskalasi konflik AS-Iran turut mempengaruhi sentimen pasar komoditas dan energi.

Pasar keuangan Indonesia kembali mengalami tekanan pada perdagangan Kamis (9/7) pagi, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,16% ke level 5.863 dan nilai tukar rupiah anjlok menembus Rp 18.077 per dolar Amerika Serikat. Pelemahan ini terjadi di tengah kabar bahwa lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings tengah memantau status investasi Indonesia, yang memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar.
Data perdagangan pukul 10:05 WIB menunjukkan IHSG bergerak di zona merah, melanjutkan tren negatif beberapa hari terakhir. Aksi jual investor asing masih mendominasi, seiring sentimen global yang tidak menentu dan kekhawatiran terhadap prospek ekonomi domestik. Rupiah yang terus melemah hingga menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS menambah tekanan bagi pasar modal, karena meningkatnya biaya impor dan potensi inflasi.
Di sisi lain, harga minyak mentah dunia kembali merangkak naik mendekati level USD 80 per barel. Kenaikan ini dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, di mana AS kembali melanjutkan serangan terhadap negara tersebut. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah selalu menjadi katalis bagi harga minyak, dan kali ini tidak terkecuali. Harga batu bara juga ikut terangkat, didorong oleh permintaan yang tinggi dari negara-negara pengimpor, termasuk China dan India.
Bagi investor Indonesia, kondisi ini menjadi sinyal waspada. Pelemahan rupiah yang signifikan dapat mendorong Bank Indonesia untuk melakukan intervensi lebih agresif di pasar valas, sementara IHSG yang lesu menunjukkan minimnya kepercayaan pasar. S&P yang memantau status investasi RI bisa menjadi ancaman serius jika peringkat diturunkan, karena akan meningkatkan biaya pinjaman dan mengurangi minat investor asing. Analis memperkirakan bahwa tekanan jual masih akan berlanjut dalam jangka pendek, terutama jika tidak ada kebijakan yang mampu menstabilkan pasar.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada langkah pemerintah dan bank sentral dalam merespons gejolak ini. Apakah intervensi rupiah akan cukup untuk menahan laju pelemahan? Ataukah IHSG akan terus terkoreksi hingga menemukan level support baru? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi kunci bagi investor untuk menentukan strategi ke depan.



