Longboat Tenggelam di Perairan Tanimbar, Satu Penumpang Tewas
Baca dalam 60 detik
- Longboat dengan 14 orang di dalamnya karam di perairan Kepulauan Tanimbar, Maluku, akibat cuaca buruk yang datang tiba-tiba.
- Korban tewas bernama Thomas Kadung (42) ditemukan mengapung setelah pencarian selama beberapa jam oleh tim SAR gabungan.
- Kejadian ini menjadi pengingat akan risiko pelayaran antarpulau di wilayah timur Indonesia yang rawan cuaca ekstrem.

Kecelakaan laut kembali terjadi di perairan timur Indonesia. Sebuah longboat yang mengangkut 14 penumpang tenggelam di antara Pulau Sera dan Pulau Selu, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, pada Selasa (7/7) pagi. Satu orang dilaporkan meninggal dunia dalam insiden yang dipicu perubahan cuaca mendadak itu.
Perahu tradisional tersebut berangkat dari dermaga Desa Kumatubun, Pulau Sera, sekitar pukul 08.00 WIT. Cuaca saat itu masih cerah dan kondisi perairan dinilai aman untuk berlayar. Namun, baru sekitar 30 menit berlayar, angin kencang dan gelombang tinggi tiba-tiba menerjang. Longboat yang tak sempat menghindar langsung karam.
Para penumpang berusaha menyelamatkan diri dengan berenang. Sebanyak 13 orang berhasil ditolong oleh nelayan setempat, sementara seorang penumpang bernama Thomas Kadung (42) dinyatakan hilang. Koordinator Pos SAR Saumlaki, Wahyunan Samal, mengatakan pihaknya menerima laporan dari BPBD Kepulauan Tanimbar pada Rabu (8/7) malam, sehari setelah kejadian.
Tim SAR gabungan yang terdiri dari personel Basarnas, BPBD, dan nelayan dikerahkan menggunakan Rigid Inflatable Boat (RIB) menuju lokasi yang berjarak sekitar 42,3 mil dari pelabuhan Saumlaki. Pencarian dilakukan di perairan Pulau Sera dengan gelombang mencapai 2,5 meter. Setelah beberapa jam, korban ditemukan dalam kondisi tak bernyawa mengapung di perairan Hutan Bakau, Dusun Tatun Angbabal, Pulau Seluโsekitar 40,6 mil dari titik awal tenggelam.
Jenazah Thomas Kadung kemudian dibawa ke Pulau Selu untuk diserahkan kepada keluarga dan dimakamkan. Dengan ditemukannya korban, operasi SAR resmi ditutup. Peristiwa ini menjadi pengingat akan tingginya risiko pelayaran antarpulau di wilayah timur Indonesia, di mana cuaca dapat berubah drastis dalam waktu singkat. Meski longboat menjadi moda transportasi utama bagi masyarakat kepulauan, keselamatan pelayaran masih menjadi tantangan serius, terutama saat musim angin barat yang kerap memicu gelombang tinggi.
Ke depan, perlu ada evaluasi terhadap sistem peringatan dini cuaca maritim dan kewajiban penggunaan alat keselamatan di kapal-kapal kecil. Pertanyaannya, akankah insiden ini mendorong perbaikan regulasi keselamatan pelayaran rakyat di Indonesia?



