Justin Baldoni Akhirnya Buka Suara: 'Kami Sedang Pulih' Usai Drama Hukum dengan Blake Lively
Baca dalam 60 detik
- Justin Baldoni dan istrinya, Emily, merilis video Instagram pertama setelah dua tahun bungkam akibat gugatan hukum dengan Blake Lively yang berakhir damai pada April lalu.
- Pasangan ini mengaku mengalami trauma berat dan harus memikirkan ulang apa yang nyata dan berarti, sembari bersyukur atas dukungan publik yang mereka terima.
- Kesepakatan di luar pengadilan mengakhiri sengketa yang melibatkan tuduhan pelecehan seksual dan pencemaran nama baik, dengan kedua pihak mengklaim kemenangan.

Aktor sekaligus sutradara Justin Baldoni akhirnya memecah kebisuannya setelah berbulan-bulan terlibat dalam pusaran hukum dengan lawan mainnya, Blake Lively. Dalam unggahan video di Instagram bersama sang istri, Emily Baldoni, ia menyampaikan bahwa keluarganya tengah menjalani proses pemulihan dari luka traumatis yang ditinggalkan oleh pertarungan hukum yang berlangsung sejak Desember 2024.
Konflik bermula ketika Blake Lively menuduh Justin melakukan pelecehan seksual dan mengoordinasikan kampanye hitam terhadapnya di balik layar film It Ends with Us. Justin dan perusahaannya, Wayfarer Studios, membalas dengan gugatan balik yang menuduh Blake dan suaminya, Ryan Reynolds, melakukan pencemaran nama baik dan pemerasan. Pada April lalu, kedua belah pihak mencapai kesepakatan di luar pengadilan, hanya dua minggu sebelum sidang dijadwalkan digelar di New York.
Dalam video yang diunggah pada pekan ini, Justin mengaku bahwa dirinya dan Emily memilih bungkam selama hampir dua tahun karena merasa belum saatnya berbicara. โKami punya banyak hal untuk dikatakan, tetapi setiap kali hendak membuat video seperti ini, ada sesuatu yang menghentikan kami,โ ujarnya. Emily menambahkan bahwa rasa syukur yang mereka rasakan tidak menghapus ketidakadilan dan rasa sakit yang dialami. โKami harus bergulat dengan banyak hal, mencoba memahami bagaimana sesuatu seperti ini bisa terjadi, apalagi dibungkus sebagai perjuangan untuk perempuan,โ katanya.
Pasangan yang telah menikah sejak 2013 dan dikaruniai dua anak ini mengaku mengalami trauma yang tidak mudah dilalui. Justin menekankan bahwa pemulihan tidaklah linear dan setiap hari berbeda. โKami harus memikirkan ulang apa yang nyata dan apa yang berarti,โ tuturnya. Ia juga menyebut bahwa keluarganya menjadi semakin dekat dan keyakinan mereka pada ajaran Bahรก'รญ semakin kokoh.
Di sisi lain, perkembangan hukum kasus ini masih menyisakan ambiguitas. Hakim sebelumnya menolak gugatan balik Justin, sementara tuntutan pelecehan seksual Blake gugur karena alasan yurisdiksi. Bulan lalu, pengadilan memutuskan bahwa Blake hanya bisa menuntut biaya hukum dari Justin, bukan ganti rugi berdasarkan undang-undang California yang dirancang untuk melindungi pelapor pelecehan seksual. Tim hukum Justin mengklaim kemenangan, sementara pengacara Blake bersikeras bahwa klien merekalah yang unggul.
Bagi publik Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa konflik hukum di industri hiburan global seringkali berujung pada negosiasi tertutup, meninggalkan banyak pertanyaan tentang keadilan substantif. Di tengah maraknya gerakan #MeToo di Tanah Air, kasus seperti ini juga menyoroti kompleksitas ketika tuduhan pelecehan berhadapan dengan gugatan balik pencemaran nama baik. Pertanyaan yang tersisa: apakah penyelesaian di luar pengadilan benar-benar membawa keadilan bagi kedua belah pihak, atau hanya mengubur fakta di balik kesepakatan rahasia?



