Warga Singapura di Balik Kit Kesehatan Astronot Artemis II: Dari Bumi ke Bulan
Baca dalam 60 detik
- Lalita Devi Arjun Singh, manajer proyek Leidos, memimpin pengembangan kit pengumpul air liur kering untuk memantau stres dan imunitas astronot Artemis II.
- Kit tersebut diadaptasi selama 1,5 tahun untuk mengatasi kondisi mikrogravitasi, termasuk risiko benda melayang dan kulit astronot yang lebih rapuh.
- Pencapaian ini membuka peluang bagi Indonesia untuk terlibat dalam rantai pasok riset antariksa global, terutama di bidang biomedis dan teknologi kesehatan.

Seorang ilmuwan asal Singapura, Lalita Devi Arjun Singh, menjadi salah satu tokoh di balik kesuksesan misi Artemis II NASA yang membawa empat astronot mengelilingi bulan pada April 2026. Ia memimpin pengembangan alat pemantau kesehatan yang memungkinkan analisis kondisi fisik kru di tengah perjalanan bersejarah itu—yang merupakan pertama kalinya manusia mendekati bulan sejak Apollo 17 pada 1972.
Bekerja sebagai manajer proyek di Leidos, perusahaan sains dan teknologi asal Amerika Serikat, Lalita bersama timnya yang beranggotakan lima orang merancang kit pengumpul air liur kering. Alat ini digunakan kru Artemis II sebanyak enam kali selama misi sepuluh hari untuk mengukur biomarker terkait stres, peradangan, fungsi kekebalan tubuh, dan aktivitas virus. "Data ini membantu ilmuwan memahami bagaimana tubuh bereaksi terhadap mikrogravitasi di ruang terbatas, serta mengembangkan tindakan pencegahan untuk misi jangka panjang ke bulan, Mars, dan seterusnya," jelas Lalita dalam wawancara dengan CNA Women.
Proses adaptasi kit tersebut memakan waktu satu setengah tahun. Tim harus memastikan alat tidak memiliki ujung tajam yang bisa melukai kulit astronot yang lebih rapuh akibat mikrogravitasi. Selain itu, karena benda mudah melayang, setiap komponen dilengkapi perekat Velcro agar tidak terbang. "Di Bumi, kita bisa meletakkan sampel setelah dikumpulkan. Di luar angkasa, barang-barang akan melayang. Kami harus mendesainnya agar bisa ditempel," ungkap Lalita. Tim juga harus menghitung lama pengeringan sampel air liur karena perilaku fluida berbeda di gravitasi nol.
Lalita juga terlibat dalam pengembangan kantong nutrisi dan hidrasi darurat yang berisi bubuk cokelat dan vanila. Kantong ini digunakan saat terjadi penurunan tekanan mendadak—misalnya karena kebocoran wahana atau hantaman partikel batuan—yang mengharuskan astronot mengenakan pakaian khusus dan tidak bisa makan normal. Dengan adaptor yang terhubung ke sistem air minum wahana, kantong tersebut menghasilkan minuman bergizi untuk mempertahankan stamina kru.
Perjalanan karier Lalita tak langsung mengarah ke antariksa. Lulusan diploma teknik kimia dari Ngee Ann Polytechnic dan sarjana biomedis dari University of Queensland ini sempat menjadi pendidik di Science Centre Singapura. Pada 2009, ia pindah ke Amerika Serikat mengikuti suaminya, lalu meraih master biologi di Lamar University dan bekerja sebagai asisten riset di University of Texas Medical Branch, meneliti dampak HIV pada otak. Pada 2021, ia mencari pekerjaan yang lebih dekat dengan rumah demi waktu bersama dua anaknya, dan bergabung dengan Leidos yang hanya berjarak 15 menit berkendara.
Bagi Indonesia, kisah Lalita membuka gambaran tentang potensi kolaborasi di sektor riset antariksa. Meski belum memiliki program astronot, Indonesia memiliki sumber daya manusia di bidang biomedis dan teknik yang bisa berkontribusi pada pengembangan teknologi kesehatan untuk misi luar angkasa. "Jika ada kesempatan bekerja atau belajar di luar Singapura, ambillah untuk memperluas wawasan. Pengalaman di luar akan menantang zona nyaman dan membentuk diri Anda," pesan Lalita kepada generasi muda.
Setelah Artemis II, Lalita akan merancang kit pengumpul darah untuk misi Artemis III. NASA sendiri menargetkan pembangunan pangkalan permanen di bulan yang didukung robot penjelajah, serta misi berawak ke Mars dalam jangka panjang. Pertanyaannya kini: apakah Indonesia akan mengambil peran dalam rantai pasok riset antariksa global, atau hanya menjadi penonton dari kejauhan?



