Pamer Harta di Medsos, Bos Kosmetik dan Bisnis Online Masuk Radar Polisi Malaysia
Baca dalam 60 detik
- Polisi Malaysia memantau sejumlah pendiri merek kosmetik dan pebisnis online yang pamer kekayaan berlebihan di media sosial, diduga terkait pencucian uang.
- Tindakan pamer uang tunai dan gaya hidup mewah dianggap sebagai strategi pemasaran untuk menarik konsumen, namun kini berujung investigasi.
- Jika terbukti melanggar, pelaku akan dijerat bersama otoritas pajak dan bank sentral; masyarakat diimbau waspada terhadap investasi cepat kaya.

Kepolisian Malaysia kini mengarahkan perhatian pada para pendiri merek kosmetik dan pelaku bisnis online yang gemar memamerkan kekayaan luar biasa di media sosial. Mereka diduga terlibat dalam praktik pencucian uang, meskipun belum ditemukan unsur penipuan dalam kegiatan bisnisnya.
Kepala Kepolisian Kelantan, Komisaris Datuk Mohd Yusoff Mamat, mengungkapkan bahwa gaya hidup mewah yang ditampilkan, termasuk tumpukan uang tunai dalam siaran langsung, telah memicu kecurigaan aparat. โMereka kini dalam radar kami. Kami memantau kemungkinan pencucian uang,โ ujarnya dalam wawancara baru-baru ini.
Pemantauan ini tidak hanya menyasar individu, tetapi juga melibatkan kerja sama dengan Lembaga Hasil Dalam Negeri dan Bank Negara Malaysia. Jika ditemukan pelanggaran, para pelaku akan diminta menunjukkan dokumen pendukung seperti kuitansi dan catatan transaksi untuk membuktikan asal-usul dana mereka.
Menurut Komisaris Yusoff, pamer kekayaan di media sosial kerap menjadi strategi pemasaran. โKetika orang melihat seseorang tampak kaya dan memajang tumpukan uang, mereka mengira produknya laris dan menguntungkan,โ jelasnya. Namun, strategi ini justru berbalik menjadi sorotan hukum.
Fenomena ini mengingatkan pada kasus serupa di Indonesia, di mana para influencer dan pebisnis online kerap memamerkan gaya hidup mewah untuk membangun citra sukses. Otoritas Indonesia, seperti PPATK dan Kepolisian, juga aktif memantau transaksi mencurigakan di ranah digital. Namun, pendekatan preventif seperti yang dilakukan Malaysia bisa menjadi contoh bagi penguatan regulasi di Tanah Air.
Komisaris Yusoff juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur oleh skema investasi yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat. โJika investasi menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat, itu patut dicurigai,โ tegasnya. Ia bahkan menyarankan penggunaan ChatGPT untuk mencari informasi tentang cara menghindari penipuan.
Ke depan, langkah kepolisian Malaysia ini diperkirakan akan mendorong para pebisnis online untuk lebih berhati-hati dalam menampilkan kekayaan di media sosial. Apakah strategi pemasaran yang mengandalkan citra kemewahan masih relevan di tengah pengawasan ketat otoritas?



