Dolar AS Perkasa di Tengah Ketegangan Teluk, Minyak Melonjak Picu Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga
Baca dalam 60 detik
- Ketegangan baru di Timur Tengah mendorong penguatan dolar AS dan lonjakan harga minyak Brent ke level tertinggi dalam dua pekan.
- Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed tahun ini melonjak hingga 87% setelah notulen FOMC menunjukkan sikap hawkish.
- Yen Jepang tertekan mendekati titik terendah 40 tahun, memicu spekulasi intervensi tersembunyi dari otoritas moneter Jepang.

Dolar AS kembali menunjukkan dominasinya di pasar valuta global pada Kamis (9/7) saat eskalasi konflik di Timur Tengah memicu aksi buru aset aman dan kenaikan harga minyak mentah yang signifikan. Kondisi ini sekaligus memperkuat spekulasi bahwa bank sentral AS akan segera menaikkan suku bunga, memberikan tekanan tambahan pada yen Jepang yang sudah terpuruk.
Indeks dolar AS, yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, nyaris tidak berubah di level 100,96. Dolar diperdagangkan di kisaran 162,41 yen, mendekati level tertinggi sejak awal Juli. Sementara itu, euro dan pound sterling relatif stabil di angka $1,1426 dan $1,3392. Dolar Selandia Baru menjadi salah satu yang menonjol dengan penguatan 0,5% ke $0,5725 setelah bank sentralnya menaikkan suku bunga dan mengadopsi sikap hawkish. Dolar Australia juga naik tipis 0,1% ke $0,6936.
Ketegangan di Teluk kembali memanas setelah militer AS melancarkan serangan baru ke Iran, hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang telah "berakhir". Langkah ini mendorong harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 5% pada Rabu ke level $78,02 per barel, dan pada Kamis pagi diperdagangkan di $79,28. Menurut Kyle Rodda, analis senior di Capital.com, "Kenaikan harga minyak yang signifikan memberikan efek domino terhadap inflasi dan suku bunga global. Lonjakan harga minyak bisa mempercepat waktu kenaikan suku bunga The Fed."
Pergerakan harga minyak ini menjadi pengingat bagi investor tentang betapa rentannya tekanan inflasi terhadap gejolak energi. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 dan 30 tahun langsung melonjak ke level tertinggi dalam tujuh pekan terakhir, mencerminkan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga. Notulen rapat FOMC bulan Juni, yang pertama kali dipimpin oleh Ketua Kevin Warsh, juga mengonfirmasi perpecahan hawkish di antara para pejabat bank sentral. Kekhawatiran terhadap inflasi yang tinggi membuat probabilitas kenaikan suku bunga tahun ini naik menjadi sekitar 87%, berdasarkan data CME FedWatch.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dan penguatan dolar AS membawa implikasi ganda. Di satu sisi, lonjakan harga minyak mentah dapat meningkatkan pendapatan negara dari sektor migas, namun di sisi lain, impor minyak dan bahan baku menjadi lebih mahal. Tekanan pada rupiah pun semakin terasa karena dolar AS yang perkasa cenderung mendorong aliran modal keluar dari negara berkembang. Bank Indonesia perlu mencermati pergerakan ini untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi.
Yen Jepang terus terpuruk mendekati level terendah dalam 40 tahun, setelah sempat melonjak misterius pekan lalu. Banyak analis menduga lonjakan itu merupakan hasil intervensi tersembunyi dari otoritas moneter Jepang, namun konfirmasi resmi baru akan keluar pada akhir bulan saat Kementerian Keuangan merilis data intervensi. Tony Sycamore, analis di IG, menilai bahwa "apakah level tersebut akan menjadi puncak jangka menengah yang berarti, pada akhirnya tergantung pada data AS yang akan datang dan, sampai batas tertentu, perkembangan di pasar obligasi pemerintah Jepang."
Ke depan, pasar akan terus memantau data inflasi AS dan pernyataan pejabat The Fed untuk mengonfirmasi arah kebijakan moneter. Sementara itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi variabel yang sulit diprediksi, dan setiap eskalasi baru berpotensi mengguncang pasar keuangan global. Akankah The Fed benar-benar menaikkan suku bunga tahun ini, atau justru menahan diri karena risiko perlambatan ekonomi? Jawabannya akan sangat menentukan arah pergerakan dolar, harga minyak, dan stabilitas pasar negara berkembang seperti Indonesia.



