Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Meroket di Atas 5 Persen
Baca dalam 60 detik
- Serangan balasan AS ke Iran memicu lonjakan harga minyak Brent dan WTI lebih dari 5 persen dalam sepekan.
- Selat Hormuz yang dilalui seperlima pasokan minyak global menjadi titik rawan setelah serangan terhadap dua kapal tanker.
- Eskalasi ini berpotensi menekan harga BBM di Indonesia dan memperburuk defisit neraca perdagangan migas.

Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari satu dolar per barel dalam perdagangan pasca-penutupan, Rabu (8/7), setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap Iran. Brent crude tercatat di level 79,28 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menyentuh 74,76 dolar AS, menguat signifikan dari posisi penutupan sebelumnya.
Lonjakan ini merupakan respons langsung terhadap ancaman Presiden Donald Trump yang menyatakan akan melanjutkan serangan ke Iran dan menyebut kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang sudah "berakhir". Meski demikian, Trump menegaskan tidak akan melancarkan perang skala penuh. Komando Pusat AS mengonfirmasi serangan baru tersebut bertujuan menjaga jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka.
Selat Hormuz menjadi pusat perhatian karena sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur ini. Sejak konflik meletus pada 28 Februari lalu, Iran telah memanfaatkan kendali atas selat tersebut sebagai alat tawar utama. Serangan terhadap dua kapal tanker pada Selasa lalu mendorong otoritas maritim menaikkan status ancaman menjadi "parah" bagi kapal yang melintas.
Menurut seorang pejabat AS yang dikutip Reuters, serangan kali ini diperkirakan lebih besar dibandingkan operasi pada Selasa. Ledakan dilaporkan terjadi di beberapa kota Iran, termasuk Bandar Abbas dan Bushehr. Iran sebelumnya mengklaim telah menyerang instalasi militer AS di Bahrain dan Kuwait, yang memicu aksi balasan Washington.
Ketegangan ini berawal dari serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz, yang mendorong AS mencabut keringanan sanksi ekspor minyak Iran yang sempat disepakati dalam kesepakatan sementara bulan lalu. Langkah tersebut mempercepat eskalasi militer yang kini berdampak langsung pada pasar energi global.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak ini menjadi sinyal waspada. Sebagai negara net importir minyak, setiap kenaikan 10 dolar AS per barel berpotensi menambah beban subsidi energi dan memperlebar defisit transaksi berjalan. Pemerintah perlu mengantisipasi dampak terhadap harga BBM dalam negeri dan stabilitas fiskal, terutama jika konflik berlarut-larut.
Ke depan, pasar akan mencermati apakah serangan balasan Iran akan menutup total Selat Hormuz, yang bisa memicu lonjakan harga lebih tajam. Pertanyaan besarnya: sejauh mana eskalasi ini akan berlangsung sebelum ada tekanan diplomatik yang efektif?



