Otoritas Moneter Singapura Dorong Struktur Asuransi Baru: Lebih Murah dan Cepat Kelola Risiko Kompleks
Baca dalam 60 detik
- Otoritas Moneter Singapura (MAS) mengusulkan kerangka Protected Cell Company (PCC) untuk sektor asuransi, yang memungkinkan pemisahan aset dan liabilitas dalam satu entitas hukum.
- Struktur ini dirancang untuk menekan biaya dan waktu pembentukan entitas khusus, serta membuka akses bagi perusahaan kecil melalui skema 'rent-a-captive'.
- Jika terealisasi pada 2028, PCC berpotensi memperkuat posisi Singapura sebagai pusat asuransi regional dan mendorong investasi di sektor rentan iklim seperti pertanian.

Otoritas Moneter Singapura (MAS) membuka konsultasi publik pada Selasa (7/7) untuk memperkenalkan Protected Cell Company (PCC), sebuah struktur korporasi baru di sektor asuransi yang menjanjikan efisiensi biaya dan kecepatan dalam mengelola risiko yang kian kompleks. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya tekanan dari perubahan iklim, ketegangan geopolitik, dan gangguan rantai pasok yang membuat perusahaan mencari alternatif di luar polis asuransi konvensional.
PCC pada dasarnya adalah satu entitas hukum yang dapat membentuk beberapa "sel", masing-masing dengan aset dan liabilitas yang terpisah secara hukum. Jika satu sel mengalami kerugian, kreditur umumnya tidak dapat menuntut aset yang berada di sel lain. Saat ini, perusahaan yang ingin memisahkan risiko harus mendirikan entitas hukum terpisah seperti special purpose vehicle, yang memakan waktu dan biaya besar. Dengan PCC, segregasi risiko terjadi dalam satu perusahaan, sehingga lebih sederhana dan murah.
Wakil Perdana Menteri Singapura Gan Kim Yong, dalam pidato di acara tahunan Asosiasi Bank di Singapura pada Juni lalu, menekankan bahwa risiko saat ini semakin kompleks, saling terhubung, dan sulit dihargai. "Satu gangguan dapat merambat ke berbagai sektor dan wilayah geografis," ujarnya. Ia juga menyoroti bahwa Asia masih sangat kekurangan perlindungan asuransi. Data MAS menunjukkan bencana alam menyebabkan kerugian ekonomi sekitar US$65 miliar di Asia pada 2025, dengan lebih dari 90 persen tidak tertanggung.
Proposal ini tidak menyasar polis asuransi ritel biasa, melainkan tiga area utama. Pertama, perusahaan besar yang mendirikan captive insurer sendiri dapat memanfaatkan PCC untuk efisiensi. Kedua, perusahaan kecil dapat bergabung melalui skema "rent-a-captive", menyewa sel dalam PCC tanpa perlu mendirikan captive insurer sendiri. Simon Goh, mitra dan kepala praktik asuransi di firma hukum Rajah & Tann, menilai ini membantu perusahaan yang tidak memiliki sumber daya atau justifikasi ekonomi untuk mendirikan captive sendiri.
Ketiga, PCC memudahkan penerbitan insurance-linked securities seperti catastrophe bonds. Saat ini setiap transaksi memerlukan special purpose vehicle terpisah; dengan PCC, banyak transaksi dapat dilakukan melalui sel berbeda dalam satu perusahaan, mengurangi biaya dan mempercepat eksekusi. Selain itu, negara-negara dapat menggabungkan risiko bencana dalam satu wadah. Southeast Asia Disaster Risk Insurance Facility (SEADRIF) misalnya, akan mendapat manfaat karena setiap negara dapat beroperasi dalam sel sendiri, menekan biaya administrasi.
Bagi konsumen, perubahan produk asuransi mungkin tidak langsung terasa. Namun, Associate Professor Goh Puay Guan dari National University of Singapore Business School berpendapat, pemisahan risiko ke dalam sel-sel terlindungi dapat membuat perusahaan asuransi lebih bersedia menanggung risiko yang sulit diprediksi seperti perubahan iklim. "Dengan mengisolasi risiko dalam struktur sel, risiko dapat dikendalikan, sehingga perusahaan asuransi lebih bersedia mendanainya," katanya. Hal ini bisa mendorong investasi di sektor pertanian dan produksi pangan yang rentan terhadap iklim.
Bagi Indonesia, langkah Singapura ini patut dicermati. Sebagai negara yang rawan bencana alam dan memiliki sektor pertanian besar, Indonesia bisa belajar dari mekanisme PCC untuk meningkatkan penetrasi asuransi dan mengelola risiko fiskal akibat bencana. Saat ini tingkat underinsurance di Indonesia masih tinggi, dan skema serupa dapat menjadi alternatif pembiayaan risiko yang lebih efisien. MAS menerima masukan hingga 7 Agustus mendatang.



