Serangan Brutal di Balochistan: 42 Tewas, Pakistan Tuding India di Balik Layar
Baca dalam 60 detik
- Tiga serangan militan di provinsi Balochistan dalam empat hari menewaskan 42 orang, termasuk warga sipil dan aparat keamanan.
- Militer Pakistan mengklaim 54 militan tewas dalam operasi balasan dan menuding India mendukung kelompok separatis, tuduhan yang dibantah New Delhi.
- Eskalasi kekerasan di perbatasan Pakistan-Afghanistan berpotensi mempengaruhi stabilitas kawasan dan berdampak pada jalur perdagangan regional yang melibatkan Indonesia.

Lonjakan kekerasan di provinsi Balochistan, Pakistan barat daya, menewaskan sedikitnya 42 orang dalam rentang empat hari setelah tiga serangan militan berturut-turut mengguncang wilayah yang kaya mineral itu. Militer Pakistan, melalui juru bicaranya Mayor Jenderal Ahmed Sharif Chaudhry, mengonfirmasi angka tersebut dalam konferensi pers yang disiarkan televisi nasional, Rabu (8/7).
Serangan terbaru terjadi di pos pemeriksaan yang menjaga proyek Bendungan Mangi, di mana sekelompok pria bersenjata menyerbu dan menewaskan sembilan personel kepolisian. Sejumlah aparat lainnya dilaporkan hilang. Chaudhry menyebutkan bahwa total korban jiwa terdiri dari empat warga sipil dan puluhan personel keamanan, meningkat dari sembilan polisi yang sebelumnya dilaporkan tewas pada Selasa. Di sisi lain, militer mengklaim telah menewaskan 54 militan dalam operasi balasan dan memberi sinyal akan melanjutkan operasi militer skala penuh.
Dalam pernyataan yang bernada keras, Chaudhry menuding India sebagai dalang di balik serangan tersebut. โKami akan memburu dan menghajar kalian di mana pun,โ ujarnya, seraya menyebut New Delhi mendukung kelompok separatis. Tuduhan serupa sebelumnya kerap dilontarkan Islamabad, namun selalu dibantah oleh India. Ketegangan antara kedua negara nuklir itu memang belum mereda sejak insiden skirmish empat hari pada tahun lalu di perbatasan Kashmir.
Balochistan, provinsi yang berbatasan dengan Iran dan Afghanistan, telah lama menjadi medan pertempuran antara militer Pakistan dan kelompok separatis etnis Baloch. Para pemberontak kerap menyasar proyek infrastruktur strategis dan investasi asing, termasuk proyek bendungan dan jalur energi yang merupakan bagian dari Koridor Ekonomi China-Pakistan (CPEC). Kekerasan yang meningkat belakangan ini juga dikaitkan dengan aktivitas militan yang bersembunyi di perbatasan Afghanistan, meskipun pemerintah Taliban di Kabul membantah terlibat.
Konteks regional tak bisa dilepaskan dari meningkatnya serangan di wilayah perbatasan Pakistan. Islamabad menuding serangan tersebut berasal dari Afghanistan, dan dalam beberapa bulan terakhir telah melancarkan serangan udara ke wilayah Afghanistan yang menurut mereka menargetkan militan. Namun, PBB dan pejabat Taliban melaporkan bahwa serangan itu justru menewaskan puluhan warga sipil. Situasi ini menambah kompleksitas hubungan Pakistan-Afghanistan yang sudah rapuh.
Bagi Indonesia, eskalasi konflik di Balochistan memiliki implikasi tidak langsung namun signifikan. Provinsi ini merupakan jalur utama proyek CPEC yang menghubungkan pelabuhan Gwadar dengan China, dan gangguan keamanan dapat mempengaruhi rantai pasok energi dan barang yang juga berdampak pada harga komoditas di pasar Asia. Selain itu, Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar perlu mencermati potensi radikalisasi dan dampak kemanusiaan dari konflik berkepanjangan di kawasan Asia Selatan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah militer Pakistan mampu mengendalikan situasi tanpa memicu krisis kemanusiaan yang lebih luas, dan apakah tuduhan terhadap India akan memperburuk hubungan bilateral yang sudah tegang. Sementara itu, warga sipil di Balochistan kembali menjadi korban di tengah permainan kepentingan geopolitik yang rumit.



