Trump Kembali Mengguncang NATO: Ambisi Greenland dan Perang Iran Memicu Ketegangan Baru
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump kembali menekan NATO untuk mendukung ambisinya menguasai Greenland dan perang di Iran, memicu ketegangan di tengah upaya aliansi meningkatkan belanja pertahanan.
- Denmark menegaskan Greenland tidak untuk dijual dan siap mempertahankan wilayahnya, sementara Sekjen NATO Mark Rutte berusaha meredam kemarahan Trump dengan menunjuk kenaikan kontribusi negara anggota.
- Perseteruan ini berpotensi menguji solidaritas NATO di saat Eropa menghadapi perang di Ukraina dan Iran, defisit dagang dengan China, serta ancaman Rusia.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan kritik pedas terhadap sekutu-sekutu NATO dalam pertemuan puncak di Ankara, Turki, pada Rabu (8/7). Ia mengecam aliansi tersebut karena dianggap menghalangi upayanya menguasai Greenland dan tidak mendukung kampanye militernya di Iran. Sikap ini membuka kembali luka lama di tubuh organisasi yang seharusnya bersatu menghadapi ancaman eksternal.
Sejak menjabat, Trump terus mendesak negara-negara anggota NATO untuk meningkatkan belanja pertahanan hingga 2% dari PDB, seiring rencana pengurangan jumlah tentara AS di Eropa. Namun, dalam pertemuan puncak kali ini, ia justru memicu kontroversi baru dengan kembali menegaskan bahwa Greenland, wilayah semi-otonom milik Denmark, seharusnya berada di bawah kendali Washington. โKami membutuhkannya untuk melindungi dunia, bukan hanya Amerika Serikat,โ ujar Trump sebelum pertemuan.
Selain Greenland, Trump juga menyoroti negara-negara Eropa yang menolak berpartisipasi dalam perang di Iran. Ia secara khusus menyebut Spanyol sebagai โmitra yang buruk di NATOโ dan mengancam akan memutus hubungan dagang. Sikap ini menuai reaksi keras dari Denmark. Perdana Menteri Mette Frederiksen menegaskan bahwa negaranya siap mempertahankan setiap inci wilayah NATO, termasuk Greenland. โKami berharap semua sekutu menghormati hak rakyat Greenland untuk menentukan nasib sendiri. Greenland jelas tidak untuk dijual,โ kata Frederiksen.
Kritik Trump yang berulang kali justru mendorong negara-negara Eropa untuk semakin erat bersatu. Mereka menghadapi perang di Ukraina dan Iran, defisit perdagangan dengan China, serta ancaman dari Rusia. Namun, persatuan itu kini diuji kembali. Ambisi Trump terhadap Greenland dinilai dapat membahayakan masa depan NATO, aliansi yang didirikan pada 1949 untuk melawan Uni Soviet. Organisasi yang biasanya fokus pada ancaman dari luar kini harus menghadapi ketegangan dari dalam.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte berusaha meredakan kemarahan Trump dengan menunjuk peningkatan belanja pertahanan negara-negara anggota. โSaya berpendapat bahwa tanpa Anda di kursi ini, hal ini tidak akan terjadi,โ kata Rutte kepada Trump dalam pertemuan bilateral. โAmbillah kemenangan itu. Itu sudah ada.โ Namun, apakah pujian tersebut cukup untuk meredakan ambisi Trump? Pertemuan puncak ini menjadi ujian bagi soliditas NATO di tengah tekanan dari sekutu terbesarnya sendiri.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat posisi strategis Selat Malaka dan Laut China Selatan yang kerap menjadi sorotan keamanan global. Ketidakstabilan di NATO dapat mengalihkan perhatian negara-negara besar dari kawasan Indo-Pasifik, sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat peran diplomatiknya di forum multilateral. Pertanyaannya, akankah Trump benar-benar mengambil langkah sepihak terhadap Greenland, atau ini hanya taktik negosiasi belaka?



