Krisis Listrik di Kuba Memicu Protes, Warga Havana Turun ke Jalan
Baca dalam 60 detik
- Warga Havana memprotes pemadaman listrik berkepanjangan akibat blokade bahan bakar AS yang telah berlangsung enam bulan.
- Pemadaman nasional ketiga tahun ini terjadi saat infrastruktur pembangkit listrik Kuba sudah usang dan kekurangan pasokan minyak.
- Sanksi AS yang diperketat sejak Januari memicu krisis ekonomi, sementara PBB dan mayoritas negara mendesak pencabutan embargo.

Protes sporadis meletus di berbagai penjuru Havana, Selasa malam (7/7), saat warga membenturkan panci, membunyikan klakson, dan meneriakkan "nyalakan lampu" โ sebuah seruan putus asa di tengah pemadaman listrik yang melumpuhkan jutaan penduduk Kuba. Aksi ini merupakan puncak kelelahan akibat blokade bahan bakar Amerika Serikat yang telah berlangsung setengah tahun, memperparah krisis energi yang sudah kronis.
Kuba mengalami pemadaman nasional untuk ketiga kalinya tahun ini pada Senin (6/7). Meskipun otoritas setempat mengklaim sebagian besar jaringan listrik telah tersambung kembali pada Selasa malam, kenyataan di lapangan menunjukkan banyak wilayah masih gelap gulita. Operator jaringan listrik nasional UNE melaporkan koneksi telah pulih dari Pinar del Rio di ujung barat hingga Holguin di timur, namun Santiago de Cuba, kota terbesar kedua, masih terisolasi tanpa aliran listrik.
Krisis ini berakar pada keputusan Washington pada Januari lalu yang memutus pasokan bahan bakar ke Kuba, diikuti sanksi baru yang memicu eksodus perusahaan asing dan hampir menghancurkan sektor pariwisata. Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi AS untuk memaksa pemerintah komunis Kuba berunding, termasuk tuntutan pemilu demokratis dan pembebasan tahanan politik. Namun, Kuba dan Perserikatan Bangsa-Bangsa menilai sanksi itu melanggar hukum internasional dan hak asasi manusia warga sipil.
Di lingkungan pinggiran Havana seperti Jaimanitas dan Santa Fe, ratusan warga yang kelelahan memadati jalanan. Sebagian duduk di ambang pintu atau trotoar, bermain domino atau mengobrol dengan tetangga sambil menunggu listrik kembali. Banyak yang sudah terbiasa dengan pemadaman selama 30 jam atau lebih, pasrah menghadapi malam lain yang diisi dengan nyamuk dan sedikit tidur. "Saya tidak melihat solusi cepat untuk masalah ini," ujar Amauri Gonzalez, seorang warga setempat. "Pembangkit listrik kami sudah usang dan tidak ada bahan bakar."
Menariknya, di beberapa bagian Santa Fe, listrik kembali menyala tak lama setelah aksi protes dimulai, membuat para demonstran bergegas pulang untuk memanfaatkannya. Namun, momen itu hanya secercah di tengah kegelapan yang berkepanjangan. Pembicaraan antara Kuba dan AS, menurut pejabat kedua negara, mengalami stagnasi. Duta Besar AS untuk PBB, Michael Waltz, dalam debat di Majelis Umum pada Selasa, justru menyalahkan pemerintah Kuba atas pemadaman tersebut. "Ubah cara kalian dan nyalakan kembali lampu untuk rakyat kalian," ujarnya.
Sebaliknya, sebagian besar negara yang berbicara dalam debat itu mendesak Washington untuk mengakhiri blokade dan mencabut sanksi yang telah melumpuhkan ekonomi pulau tersebut. Sikap ini mencerminkan isolasi diplomatik AS di forum internasional terkait kebijakannya terhadap Kuba.
Bagi Indonesia, krisis Kuba menjadi pengingat akan kerentanan negara kepulauan terhadap embargo energi dan pentingnya diversifikasi sumber daya. Meskipun Indonesia tidak menghadapi blokade serupa, ketergantungan pada impor bahan bakar dan infrastruktur kelistrikan yang menua merupakan tantangan bersama. Pertanyaan yang mengemuka: akankah tekanan internasional mampu melunakkan sikap Washington, atau justru memperdalam penderitaan rakyat Kuba?



