Ledakan Mortir di Bandung Barat Tewaskan Tiga Warga, Diduga Akibat Kebiasaan Memungut Selongsong Peluru
Baca dalam 60 detik
- Tiga warga Cipatat, Bandung Barat, tewas akibat ledakan peluru mortir 81 mm di rumah salah satu korban pada Rabu (8/7).
- Korban diduga kerap memungut selongsong peluru bekas latihan TNI di sekitar lokasi, dan ledakan terjadi saat mereka membawa amunisi aktif ke rumah.
- Polisi masih menyelidiki asal-usul mortir tersebut, sementara TNI belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden ini.

Tiga warga Kampung Ciparang, Desa Cipatat, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, meregang nyawa setelah sebuah peluru mortir 81 mm meledak di rumah salah satu korban pada Rabu (8/7). Peristiwa nahas ini kembali menyoroti bahaya laten sisa amunisi latihan militer yang masih kerap ditemukan dan dikumpulkan warga.
Korban tewas diidentifikasi sebagai Ade (21), Suhri (51), dan Rodiana (40). Kapolsek Cipatat Kompol DMS Andriani Sapin mengungkapkan, berdasarkan keterangan saksi, ledakan terdengar dari rumah milik Ade. Saat warga mendatangi lokasi, ketiga korban sudah terkapar tak bergerak. Satu korban sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong. Dua lainnya meninggal di tempat.
Dari hasil pemeriksaan awal, polisi menemukan bahwa ketiga korban memiliki kebiasaan memungut selongsong peluru bekas latihan TNI yang kerap berserakan di area tak jauh dari permukiman. "Saat korban dievakuasi, masih ada mortir yang tersisa," ujar Andriani. Jenis amunisi yang ditemukan di lokasi adalah peluru tank (tampela), bukan mortir biasa.
Ledakan ini memicu pertanyaan serius mengenai prosedur pengamanan area latihan militer dan edukasi kepada masyarakat sekitar. Selama ini, warga di sekitar kawasan latihan TNI kerap mengumpulkan selongsong peluru bekas untuk dijual sebagai besi tua, tanpa menyadari risiko amunisi yang masih aktif. Peristiwa serupa pernah terjadi di beberapa daerah, namun belum ada langkah konkret dari pihak berwenang untuk menghentikan praktik berbahaya ini.
Hingga berita ini diturunkan, TNI belum memberikan keterangan resmi terkait insiden tersebut. Polisi masih menyelidiki asal-usul mortir yang meledak, termasuk apakah amunisi tersebut berasal dari latihan militer terdekat atau dari sumber lain. Ketidakjelasan ini menambah kekhawatiran warga akan keselamatan mereka, terutama bagi mereka yang tinggal di sekitar area latihan.
Kejadian di Cipatat menjadi pengingat pahit bahwa koordinasi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat perlu diperkuat. Sosialisasi tentang bahaya amunisi sisa latihan harus digencarkan, dan pengawasan terhadap area latihan perlu ditingkatkan agar tidak ada lagi warga yang menjadi korban. Pertanyaan mendasar yang tersisa: akankah insiden ini mendorong perubahan kebijakan yang berarti, atau hanya akan menjadi catatan duka lain yang terlupakan?



