Mo Gilligan Makan Ayam Goreng Tiga Kali Sehari Selama Sebulan Demi Dokumenter Netflix
Baca dalam 60 detik
- Komika asal Inggris, Mo Gilligan, menjalani tantangan ekstrem dengan hanya mengonsumsi ayam goreng setiap kali makan selama 30 hari dalam dokumenter Big Chicken: A Fast Food Conspiracy.
- Film berdurasi 96 menit ini mengupas sejarah, dampak sosial-ekonomi, dan praktik industri di balik fenomena ayam goreng, sekaligus menantang stereotip negatif yang melekat pada hidangan tersebut.
- Dokumenter ini dijadwalkan tayang global di Netflix pada 5 Agustus 2026 dan diharapkan memicu diskusi tentang transparansi rantai pasok makanan cepat saji.

Komika asal London, Mo Gilligan, rela menyantap ayam goreng tiga kali sehari selama sebulan penuh demi menyelami obsesi global terhadap makanan cepat saji itu. Tantangan ekstrem tersebut menjadi inti dari dokumenter terbaru Netflix, Big Chicken: A Fast Food Conspiracy, yang merupakan film dokumenter pertama sang komedian di platform streaming raksasa itu.
Dalam film berdurasi 96 menit itu, Gilligan melakukan perjalanan dari London Selatan hingga ke Amerika Serikat untuk menelusuri asal-usul ayam goreng serta kekuatan sosial, ekonomi, dan industri yang mendorong konsumsi massalnya. Netflix menggambarkan perjalanan ini sebagai “pengalaman membuka mata” yang mengungkap realitas mengganggu di balik makanan favorit Gilligan.
“Menyingkap penemuan mengejutkan di sepanjang jalan, Big Chicken: A Fast Food Conspiracy mendorong Mo untuk menghadapi kenyataan tak nyaman di balik makanan takeaway favoritnya, memicu rasa ingin tahu yang lebih besar tentang asal-usul makanan kita dan pendekatan yang lebih bijak terhadap pilihan konsumsi,” demikian pernyataan resmi Netflix.
Gilligan, yang dikenal sebagai komedian kulit hitam asal Inggris, juga akan mengupas stereotip negatif yang melekat pada ayam goreng, terutama yang kerap diarahkan ke komunitas Afrika-Amerika dan diaspora Afrika. Ia meneliti bagaimana hidangan ini dipasarkan dan dikomodifikasi, serta dampaknya terhadap persepsi publik.
Dalam wawancara dengan The Guardian pada 2021, Gilligan mengungkapkan ketertarikannya yang mendalam terhadap keragaman olahan ayam di berbagai budaya. “Saya selalu dikelilingi ayam: ayam jerk, kari ayam, semur ayam… apa yang bisa dilakukan dengan ayam sungguh luar biasa,” ujarnya. Ia bahkan sempat mencoba menjadi pescatarian, tetapi setelah enam bulan ia tak kuasa menahan godaan sepiring besar ayam jerk.
Bagi Gilligan, ayam bukan sekadar makanan; ia adalah simbol kenyamanan dan identitas. Makanan favoritnya adalah semur ayam dengan nasi dan kacang polong, lengkap dengan salad dan coleslaw—idealnya dimasak oleh ibunya. “Kalau ditanya makanan apa yang saya pilih untuk santapan terakhir sebelum dieksekusi, pasti itu. Itulah kenyamanan dalam makanan,” katanya.
Konteks dokumenter ini relevan bagi Indonesia, di mana industri ayam goreng cepat saji tumbuh pesat dengan merek lokal maupun internasional. Fenomena “ayam geprek” dan “ayam penyet” menunjukkan betapa ayam goreng telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kuliner jalanan. Dokumenter ini bisa menjadi cermin bagi konsumen Indonesia untuk lebih kritis terhadap asal-usul bahan baku, praktik industri, dan dampak kesehatan dari konsumsi berlebihan.
Pertanyaan yang muncul: apakah dokumenter ini akan mengubah kebiasaan konsumsi ayam goreng global, atau justru memperkuat posisinya sebagai ikon budaya pop? Yang jelas, petualangan Gilligan selama sebulan penuh ayam goreng akan menjadi tontonan yang menggugah selera sekaligus pikiran.



