Laba Bersih PalmCo Tembus Rp7,08 Triliun, Tertinggi Sepanjang Sejarah
Baca dalam 60 detik
- PalmCo membukukan laba bersih Rp7,08 triliun pada 2025, naik 90,3% dibanding tahun sebelumnya.
- Kenaikan harga CPO dan efisiensi operasional menjadi pendorong utama lonjakan laba perusahaan.
- Perusahaan berencana memperkuat hilirisasi sawit untuk mendukung ketahanan energi nasional.

PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) PalmCo mencatatkan laba bersih sebesar Rp7,08 triliun pada tahun buku 2025, melonjak 90,3% dari Rp3,72 triliun pada 2024. Capaian ini menjadi yang tertinggi sejak perusahaan dibentuk tiga tahun lalu, mencerminkan keberhasilan strategi efisiensi dan optimalisasi produksi di tengah volatilitas pasar global.
Direktur Utama PalmCo Jatmiko Santosa mengungkapkan bahwa peningkatan laba ditopang oleh kenaikan produksi minyak sawit mentah (CPO) sebesar 7,87% menjadi 2,70 juta ton, serta harga jual rata-rata CPO yang mencapai Rp14.223 per kilogram, naik 10,4% dari tahun sebelumnya. "Pengendalian biaya dan peningkatan produksi menjadi tulang punggung perusahaan. Fundamental inilah yang membuat kenaikan harga CPO sebesar 10% mampu membuahkan lonjakan laba hingga 90%," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (8/7/2026).
Manajemen mencatat bahwa 62% dari lonjakan laba berasal dari faktor eksternal berupa kenaikan harga komoditas, sementara 38% sisanya merupakan hasil dari upaya internal seperti peningkatan volume penjualan dan efisiensi biaya. Sejak 2023, laba bersih PalmCo tumbuh eksponensial dari Rp2,53 triliun, menjadi Rp3,72 triliun pada 2024, dan kini Rp7,08 triliun. Perusahaan menyebut periode ini sebagai fase transformasi yang menghasilkan profitabilitas tertinggi.
Di sisi operasional, PalmCo juga mencatatkan prestasi dalam program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Berdasarkan data Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), perusahaan menjadi yang paling aktif secara nasional dengan pendampingan seluas 6.672 hektare pada 2025. Petani plasma binaan berhasil mencapai produktivitas rata-rata 20,18 ton tandan buah segar (TBS) per hektare per tahun, di atas standar nasional. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan perusahaan sejalan dengan peningkatan kesejahteraan petani mitra.
Ke depan, PalmCo berencana melanjutkan pengembangan hilirisasi industri sawit, termasuk optimalisasi produk turunan sebagai bahan baku renewable biogasoline. Langkah ini dinilai strategis untuk mendukung ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Meski demikian, manajemen mengingatkan bahwa transformasi belum selesai dan perusahaan akan terus mengevaluasi aspek operasional serta manajemen risiko untuk menjaga keberlanjutan kinerja.
Bagi pelaku pasar dan investor, lonjakan laba PalmCo menjadi sinyal positif bagi sektor perkebunan sawit nasional. Namun, ketergantungan pada harga komoditas global tetap menjadi risiko yang perlu diantisipasi. Pertanyaan besarnya adalah: mampukah PalmCo mempertahankan momentum ini jika harga CPO kembali tertekan?



