Rand Afrika Selatan Tertekan: Ketegangan Timur Tengah Dongkrak Dolar AS
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar rand melemah terhadap dolar AS, euro, dan pound sterling akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong investor beralih ke aset aman.
- Cadangan devisa Afrika Selatan turun ke level terendah sejak November 2025, dipengaruhi penurunan harga emas dan pembayaran utang pemerintah.
- Kenaikan harga minyak dan emas memperkuat tekanan inflasi global, berpotensi mempengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral termasuk di Indonesia.

Rand Afrika Selatan mengalami tekanan jual pada perdagangan Rabu (24/6) setelah eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong investor global memborong dolar AS sebagai aset aman. Mata uang negara penghasil emas itu melemah terhadap tiga mata uang utama sekaligus, mencerminkan meningkatnya risk aversion di pasar keuangan emerging market.
Dalam laporan paginya, First National Bank (FNB) mencatat rand diperdagangkan di level R16,27 per dolar AS, R18,57 per euro, dan R21,72 per pound sterling. Pelemahan ini terjadi di tengah data perdagangan AS yang menunjukkan permintaan impor yang kuat dan investasi bisnis yang berkelanjutan, serta kekhawatiran baru atas gangguan pasokan energi setelah sebuah kapal LNG Qatar dilaporkan terkena serangan di dekat Selat Hormuz.
Tekanan terhadap rand semakin bertambah setelah Bank Sentral Afrika Selatan melaporkan penurunan cadangan devisa bruto menjadi 74,115 miliar dolar AS pada Juni 2026, turun dari 76,58 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya. Angka ini merupakan yang terendah sejak November 2025. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh berkurangnya nilai cadangan emas—dari 18,27 miliar dolar AS menjadi 16,26 miliar dolar AS—serta penyesuaian valuasi dan pembayaran valuta asing atas nama pemerintah. Cadangan valuta asing juga menyusut tipis dari 51,66 miliar dolar AS menjadi 51,22 miliar dolar AS.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah kembali merangkak naik setelah Amerika Serikat melancarkan serangan gelombang terhadap Iran sebagai respons atas insiden kapal di Selat Hormuz. Brent crude naik ke 76,10 dolar AS per barel dari sebelumnya 72 dolar AS, sementara West Texas Intermediate (WTI) mendekati level 70 dolar AS. Kenaikan ini menghidupkan kembali kekhawatiran akan keamanan jalur pelayaran energi tersibuk di dunia. Sementara itu, emas—yang menjadi barometer ketidakpastian global—diperdagangkan di level 4.225 dolar AS per ons, didukung oleh ekspektasi bahwa bank sentral utama akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk mengendalikan inflasi.
Bagi Indonesia, dinamika ini memberikan sinyal waspada. Pelemahan rand dan penguatan dolar AS biasanya diikuti oleh tekanan serupa pada rupiah, mengingat keduanya sama-sama mata uang emerging market yang sensitif terhadap aliran modal asing. Kenaikan harga minyak juga berpotensi menambah beban subsidi energi dalam negeri, sementara harga emas yang tinggi bisa mendorong inflasi impor. Bank Indonesia perlu mencermati pergerakan ini dalam menentukan arah suku bunga ke depan.
Ke depan, pasar akan fokus pada perkembangan negosiasi gencatan senjata di Timur Tengah dan data ekonomi AS pekan depan. Jika ketegangan berlanjut, arus modal keluar dari emerging market bisa semakin deras, memperlemah nilai tukar dan memperketat likuiditas. Pertanyaan besarnya: seberapa siap bank sentral di kawasan, termasuk Indonesia, mengantisipasi guncangan ini tanpa mengorbankan pertumbuhan?



