Obligasi Danantara Laku Keras, Bukti Investor Asing Masih Percaya RI
Baca dalam 60 detik
- Permintaan obligasi global Danantara mencapai 3 kali lipat dari target, dengan total pesanan US$ 4,6 miliar.
- Tony Blair turut memvalidasi stabilitas ekonomi Indonesia, memperkuat kepercayaan investor asing.
- Keberhasilan ini membuka peluang penerbitan obligasi tenor 30 tahun ke depan.

Penerbitan obligasi global perdana Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mendapat sambutan luar biasa dari pasar internasional. Surat utang senilai US$ 1,5 miliar itu kelebihan permintaan hingga tiga kali lipat, dengan puncak pemesanan mencapai US$ 4,6 miliar atau setara Rp 81,4 triliun. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa kepercayaan investor asing terhadap ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah gejolak global.
CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa kesuksesan ini tidak terlepas dari roadshow yang dilakukan ke sejumlah pusat keuangan dunia, seperti Hong Kong, Singapura, Inggris, dan Amerika Serikat. "Kepercayaan ini adalah hasil dari fundamental ekonomi kita yang solid," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (8/7/2026).
Obligasi global Danantara diterbitkan dalam dua seri: tenor 5 tahun dengan kupon 5,35% dan tenor 10 tahun dengan kupon 5,95%, masing-masing mengumpulkan dana US$ 750 juta. Menariknya, tingkat imbal hasil ini lebih rendah dari perkiraan awal, menunjukkan bahwa investor bersedia menerima yield lebih kecil demi berinvestasi di Indonesia. Rosan menegaskan, capaian ini membantah anggapan bahwa instrumen Danantara tidak akan diminati pasar.
Dukungan juga datang dari mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, yang dalam kunjungannya ke kantor Danantara pada 7 Juli lalu menyampaikan antusiasme investor global terhadap potensi kolaborasi di Indonesia. Menurut Rosan, validasi dari tokoh sekaliber Blair memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi investasi yang kondusif. "Mereka tidak hanya datang untuk jangka pendek, tapi berkomitmen jangka panjang," tambahnya.
Bagi investor Indonesia, kabar ini memberikan angin segar di tengah kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global. Keberhasilan Danantara menembus pasar obligasi internasional menunjukkan bahwa fundamental ekonomi domestik masih dianggap solid. Hal ini juga menjadi modal berharga bagi pemerintah untuk terus menarik investasi asing langsung (FDI) ke sektor-sektor prioritas.
Ke depan, Rosan membuka kemungkinan penerbitan obligasi global berikutnya, termasuk tenor 30 tahun, mengingat tingginya minat investor. Pertanyaannya, mampukah Danantara mempertahankan momentum ini dan menerjemahkannya ke dalam proyek-proyek nyata yang berdampak langsung pada perekonomian Indonesia?



