Farage Mundur dari Parlemen demi Pemilu Ulang: Strategi atau Pelarian?
Baca dalam 60 detik
- Nigel Farage mengundurkan diri dari kursi parlemen untuk memicu pemilu sela di Clacton, menyusul investigasi atas dugaan pelaporan donasi yang tidak transparan.
- Langkah ini disebut sebagai upaya menghindari sanksi dari badan pengawas parlemen, namun dikritik sebagai gimik politik oleh partai-partai utama Inggris.
- Farage membingkai pemilu sela sebagai pertarungan rakyat melawan elite, yang bisa menjadi uji coba strategi menjelang pemilu nasional 2029.

Nigel Farage, pemimpin partai populis Reform UK, mengumumkan pengunduran dirinya dari kursi parlemen pada Selasa (7/7) lalu, hanya untuk segera mencalonkan diri kembali dalam pemilu sela di daerah pemilihannya, Clacton. Langkah kontroversial ini diambil di tengah investigasi badan pengawas parlemen atas dugaan pelaporan donasi senilai jutaan pound yang tidak sesuai aturan.
Dalam pengumuman yang disiarkan televisi, Farage yang tampak emosional menuduh elite liberal Inggris melakukan "tumpukan serangan" untuk mendiskreditkan dirinya. Ia menyebut pemilu sela ini sebagai "rakyat melawan kemapanan" dan kesempatan bagi publik untuk menunjukkan perlawanan terhadap sistem. Namun, para pengamat menilai manuver ini justru bisa menjadi bumerang.
Partai Buruh yang berkuasa, Partai Konservatif, dan partai-partai lain menyatakan tidak akan mencalonkan kandidat di Clacton. Perdana Menteri Keir Starmer menyebut langkah Farage sebagai "akal-akalan putus asa", sementara juru bicara calon penggantinya, Andy Burnham, mengecapnya sebagai "gimik yang dirancang untuk mengalihkan perhatian dari tuduhan serius". Kemi Badenoch, pemimpin oposisi Konservatif, menambahkan bahwa ia melihat "seorang yang mulai retak di bawah tekanan".
Farage, 62 tahun, membantah semua tuduhan dan mengaku tidak melakukan kesalahan. Ia mengklaim dana tambahan dari pendukung digunakan untuk keamanan pribadi, dan mengingatkan bahwa ia telah mengorbankan karier demi perjuangan Brexit. Namun, dalam pidatonya yang jarang terjadi, ia tampak gugup dan tersendat-sendat, kontras dengan penampilan biasanya yang percaya diri dan tajam.
Pemicu terakhir, menurut Farage, adalah ketika jurnalis diduga mengganggu privasi putrinya yang tidak terlibat politik. Ia menyebut Sky News telah menghubungi keluarganya, meskipun stasiun televisi itu membantah dan mengatakan hanya sekali mendatangi properti tanpa kamera. "Saya tidak akan mentolerir intimidasi terhadap keluarga saya," tegas Farage. "Apakah saya marah? Saya belum pernah semarah ini dalam hidup saya."
Langkah Farage ini mengingatkan pada pola karier politiknya yang penuh kejutan. Ia pernah "pensiun" dari politik setelah referendum Brexit 2016, hanya untuk kembali dua tahun kemudian. Kini, dengan membingkai pemilu sela sebagai pertarungan rakyat melawan elite, ia menguji strategi yang bisa diterapkan pada pemilu nasional 2029. Seorang sumber dekat Reform UK mengatakan, secara anonim, bahwa Farage ingin memposisikan partainya sebagai underdog melawan partai-partai besar.
Namun, tanpa lawan yang jelas di Clacton, janji Farage untuk "berjuang dan menang" bisa terdengar hampa. Pertanyaan besarnya: apakah publik Inggris akan melihat ini sebagai perlawanan heroik atau sekadar pelarian dari tanggung jawab? Bagi Indonesia, dinamika politik Inggris ini menjadi pengingat bagaimana isu transparansi dan akuntabilitas dapat menjadi alat untuk menguji legitimasi pemimpin populis di era media sosial.



