Pengangguran Filipina Naik Jadi 2,5 Juta pada Mei, Angkatan Kerja Justru Membaik
Baca dalam 60 detik
- Jumlah penganggur di Filipina mencapai 2,5 juta pada Mei 2026, naik tipis dari bulan sebelumnya akibat perlambatan penyerapan tenaga kerja.
- Meski tingkat pengangguran naik ke 4,8%, indikator lain seperti partisipasi angkatan kerja dan tingkat setengah pengangguran justru menunjukkan perbaikan.
- Kondisi ini menjadi sinyal bagi Indonesia untuk mencermati dinamika pasar tenaga kerja regional, terutama dalam menghadapi tekanan global serupa.

Jumlah pengangguran di Filipina kembali meningkat pada Mei 2026, mencapai 2,5 juta orang atau naik sekitar 90 ribu dibanding bulan sebelumnya. Badan Statistik Filipina (PSA) mencatat tingkat pengangguran naik tipis dari 4,7 persen menjadi 4,8 persen, menandai tekanan berkelanjutan di pasar tenaga kerja negara tersebut.
Kenaikan ini terjadi meskipun jumlah penduduk yang bekerja justru bertambah signifikan. PSA melaporkan angka pekerja naik dari 48,9 juta menjadi 49,63 juta orang. Namun, karena pertumbuhan angkatan kerja yang lebih cepat, tingkat pekerjaan justru sedikit menurun dari 95,3 persen menjadi 95,2 persen. Artinya, lebih banyak orang yang aktif mencari kerja, tetapi tidak semuanya terserap.
Di sisi lain, partisipasi angkatan kerja Filipina meningkat dari 62,7 persen menjadi 63,8 persen, atau setara 52,13 juta orang. Hal ini menunjukkan optimisme masyarakat untuk masuk pasar kerja, meskipun lapangan pekerjaan belum sepenuhnya mampu mengimbangi.
Fenomena menarik terjadi pada angka setengah pengangguran, yang justru menurun tajam. Jumlah pekerja yang masih mencari tambahan jam kerja atau pekerjaan lain berkurang dari 7,41 juta menjadi 6,04 juta, atau turun dari 15,2 persen menjadi 12,2 persen. Ini mengindikasikan bahwa kualitas pekerjaan mulai membaik, meskipun secara keseluruhan pasar tenaga kerja masih menghadapi tantangan.
Bagi Indonesia, data ini menjadi cermin penting. Sebagai negara tetangga dengan struktur ekonomi serupa, Filipina kerap menghadapi dinamika ketenagakerjaan yang tidak jauh berbeda. Peningkatan partisipasi angkatan kerja yang tidak diimbangi penciptaan lapangan kerja memadai juga menjadi isu klasik di Indonesia. Pemerintah Indonesia perlu mewaspadai tren kenaikan pengangguran di kawasan, terutama jika tekanan global seperti perlambatan ekonomi atau ketidakpastian pasar terus berlanjut.
Ke depan, tantangan bagi Filipina adalah bagaimana menyerap tambahan angkatan kerja yang terus bertambah. Pertumbuhan ekonomi yang stabil dan kebijakan investasi yang tepat menjadi kunci. Pertanyaannya, apakah negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, mampu belajar dari pengalaman Filipina untuk merumuskan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih adaptif?



