Proyek SGAR Fase 2 Mempawah: Antam, Inalum, dan Bukit Asam Kunci Hilirisasi Bauksit Nasional
Baca dalam 60 detik
- Pembangunan SGAR Fase 2 senilai Rp14,8 triliun di Mempawah ditargetkan rampung akhir 2028, memproduksi 1 juta ton alumina per tahun.
- Kolaborasi BUMN di bawah MIND ID ini diproyeksikan meningkatkan PDB hingga Rp71,8 triliun per tahun dan mengakhiri impor alumina Indonesia.
- Bagi investor, diversifikasi Antam ke nikel dan bauksit memperkuat ketahanan terhadap fluktuasi harga komoditas, dengan nilai tambah hilirisasi mencapai 70 kali lipat.

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) bersama tiga BUMN tambang—PT Aneka Tambang Tbk (Antam), PT Inalum, dan PT Bukit Asam Tbk—resmi memulai pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 2 di Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek senilai Rp14,8 triliun ini menjadi tonggak baru dalam strategi hilirisasi mineral nasional, sekaligus memperkuat posisi Antam di tengah gejolak harga komoditas global.
SGAR Fase 2 yang dioperasikan oleh PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) akan menambah kapasitas produksi alumina sebesar 1 juta ton per tahun. Dengan menggabungkan produksi Fase 1 yang sudah berjalan, total kapasitas pengolahan bauksit di Mempawah mencapai 2 juta ton per tahun. Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menyebut proyek ini mampu memangkas ketergantungan impor alumina—bahan baku utama aluminium—dan menempatkan Indonesia sebagai pemain kunci rantai pasok global.
Menurut perhitungan MIND ID, dampak ekonomi dari hilirisasi ini sangat signifikan. Operasi penuh SGAR Fase 2 diperkirakan menyumbang tambahan produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp71,8 triliun per tahun. Selain itu, proyek ini menyerap sekitar 6 juta ton bijih bauksit per tahun dari tambang Antam di Mempawah dan Landak, sementara pasokan listrik akan dipasok oleh Bukit Asam. Nilai investasi keseluruhan untuk fasilitas pengolahan dan peleburan alumina mencapai Rp104,55 triliun (setara US$6,23 miliar).
Bagi Antam, proyek ini bukan sekadar perluasan lini bisnis. Perusahaan yang selama ini identik dengan emas kini semakin memperkuat diversifikasi ke nikel, bauksit, dan alumina. Langkah ini membuat Antam lebih tahan terhadap fluktuasi harga komoditas tunggal, sekaligus membuka peluang nilai tambah hingga 70 kali lipat dari bauksit mentah menjadi alumina. Dalam pernyataan resmi di akun Instagram perusahaan, Antam menegaskan komitmennya terhadap hilirisasi sebagai bagian dari kedaulatan mineral bangsa.
Konteks domestik: Indonesia selama ini masih mengimpor alumina untuk memenuhi kebutuhan industri aluminium dalam negeri. Dengan beroperasinya SGAR Fase 2 pada akhir 2028, Indonesia diproyeksikan benar-benar mandiri dalam pasokan alumina. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mendorong pengolahan mineral di dalam negeri, sekaligus mengurangi defisit neraca perdagangan sektor pertambangan.
Ke depan, keberhasilan proyek ini akan menjadi ujian bagi konsistensi kebijakan hilirisasi di bawah kepemimpinan baru Danantara dan MIND ID. Pertanyaan yang mengemuka: mampukah Indonesia mempertahankan momentum ini di tengah tekanan harga aluminium global dan persaingan dengan produsen alumina seperti Australia dan China?



