Gus Ipul: Kepala Sekolah Rakyat Harus Berani Hadapi Masalah, Jangan Takut
Baca dalam 60 detik
- Mensos Gus Ipul mendorong 191 kepala Sekolah Rakyat untuk meningkatkan kapasitas diri dan berani mengambil keputusan dalam memimpin sekolah berasrama bagi anak miskin.
- Survei terhadap 174 kepala sekolah menunjukkan kesiapan mental tinggi (8,95/10), namun 38% masih menghadapi kendala signifikan menjelang MPLS.
- Kemensos berkomitmen memperjuangkan tunjangan kinerja dan regulasi khusus untuk kesejahteraan tenaga pendidik Sekolah Rakyat.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, menegaskan bahwa Kementerian Sosial akan mendampingi para kepala Sekolah Rakyat dalam mengelola satuan pendidikan yang menyasar anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Arahan itu disampaikan secara daring kepada 191 kepala sekolah dalam Rapat Konsolidasi dan Pembekalan Kepala Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2026/2027 di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (7/7).
Gus Ipul menekankan bahwa keberhasilan Sekolah Rakyat tidak hanya diukur dari prestasi akademik, melainkan dari kemampuan sekolah membangun sistem yang mendorong pengembangan potensi unik setiap peserta didik. Ia mendorong para kepala sekolah memiliki mentalitas besar, visioner, dan berani mengambil keputusan. "Masalah harus dihadapi, jangan takut kekurangan masalah. Itu tanda negara sedang mempercayakan sesuatu yang besar kepada kita semua," ujarnya.
Peningkatan kualitas Sekolah Rakyat, menurut Gus Ipul, harus dimulai dari peningkatan kualitas diri kepala sekolah. Ia meminta mereka membangun disiplin pribadi, jujur menyampaikan persoalan, tenang menghadapi tekanan, dan berani mengevaluasi diri. Seluruh kepala sekolah akan mendapat dukungan sumber daya, pedoman, dan anggaran yang sama, sehingga tidak ada alasan untuk tidak berinovasi.
Hasil survei terhadap 174 kepala sekolah mengungkapkan optimisme dan tantangan jelang Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Meski kesiapan mental tergolong tinggi, hanya 18% yang menyatakan siap sepenuhnya, 26% siap sebagian, sementara 38% masih menghadapi kendala signifikan, dan 17% mengaku belum siap. Kebutuhan utama yang disuarakan meliputi tambahan guru dan tenaga kependidikan (77%), pendampingan langsung dari Pusdiklat/PPK (61%), kejelasan anggaran (56%), serta pelatihan lanjutan (48%).
Di lapangan, sejumlah persoalan teknis masih ditemukan, seperti ketersediaan sumber air di salah satu Sekolah Rakyat permanen, penyelesaian status kepegawaian dan SK kepala sekolah di beberapa lokasi, serta penyelesaian pembangunan gedung permanen. Gus Ipul mengapresiasi dedikasi para kepala sekolah sejak tahap rintisan dan menyebut mereka sebagai bagian dari sejarah pembangunan pendidikan bagi anak-anak kurang mampu.
"Kita tidak sedang sekadar menjalankan tugas. Kita sedang menjadi pemilik sejarah Sekolah Rakyat. Jalankan dengan profesional dan empati," pesannya. Ia memastikan Kemensos akan terus memperjuangkan peningkatan kesejahteraan kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan, termasuk tunjangan kinerja yang lebih baik dan perubahan regulasi yang mendukung operasional boarding school.
Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia berjalan seiring dengan semangat para kepala sekolah. Akankah dukungan anggaran dan regulasi mampu mengejar ketertinggalan di lapangan? Jawabannya akan menentukan apakah Sekolah Rakyat benar-benar menjadi solusi pendidikan inklusif bagi anak-anak miskin ekstrem di Indonesia.



