Krisis PMMP: Utang Rp1 Triliun, Pabrik Hanya Satu yang Beroperasi
Baca dalam 60 detik
- Emiten udang Kaesang Pangarep, PMMP, hanya mengoperasikan satu pabrik akibat kekurangan modal kerja.
- Total utang perseroan mencapai US$257,13 juta, dengan eksposur terbesar dari Bank Permata hampir Rp1 triliun.
- Rugi bersih membengkak jadi US$38,02 juta, sementara ekuitas negatif US$36,40 juta mengancam kelangsungan usaha.

PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), emiten udang beku yang terafiliasi dengan Kaesang Pangarep, kini berada dalam tekanan keuangan yang akut. Perseroan hanya mampu mengoperasikan satu dari sekian pabrik yang dimiliki akibat keterbatasan modal kerja, sementara negosiasi restrukturisasi utang dengan sejumlah kreditur masih berjalan alot.
Berdasarkan keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), total liabilitas PMMP per 30 September 2025 mencapai US$257,13 jutaโmelampaui total aset sebesar US$220,73 juta. Kondisi ini membuat perseroan mencatat defisiensi modal alias ekuitas negatif sebesar US$36,40 juta. Artinya, kewajiban perusahaan telah melebihi nilai seluruh aset yang dimiliki.
Bank Permata Tbk (BNLI) menjadi kreditur dengan eksposur terbesar. Outstanding kredit PMMP di bank tersebut mencapai US$53,12 juta plus fasilitas rupiah Rp5,49 miliar. Dengan kurs Rp18.027 per dolar AS, total tagihan Bank Permata diperkirakan menembus Rp963 miliarโhampir Rp1 triliun. Selain itu, PMMP juga memiliki pinjaman ke LPEI, BCA, Bank SMBC Indonesia, Bank Maspion, dan Bank Resona Perdania.
Manajemen PMMP mengakui bahwa restrukturisasi dengan Bank Permata sudah memiliki perjanjian kredit, sementara dengan kreditur lain masih menunggu keputusan komite masing-masing bank. Di sisi operasional, perusahaan hanya mengandalkan satu pabrik di Situbondo. Kebutuhan tambahan modal kerja diperkirakan mencapai US$15 juta agar produksi bisa berjalan normal kembali.
Upaya efisiensi telah dilakukan melalui pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran. Sejak 2024, perusahaan telah memberhentikan 37 karyawan staf dan 79 karyawan harian, sementara 82 staf lain memilih mengundurkan diri. Namun, langkah ini belum cukup menghentikan pendarahan keuangan.
Untuk menyelamatkan struktur permodalan, PMMP berencana melakukan rights issue dan mengonversi sebagian utang menjadi saham. Rencana ini diharapkan dapat mengembalikan ekuitas menjadi positif dan memberikan suntikan likuiditas yang sangat dibutuhkan.
Di tengah krisis, Direktur Pemasaran PMMP Patrick Djuanda mengundurkan diri efektif 25 Februari 2026 setelah 12 tahun mengabdi. Dalam suratnya, ia menyebut alasan pribadi sebagai penyebab mundurnya. "Saya telah mempertimbangkan keputusan ini dengan matang," tulisnya dalam keterbukaan informasi BEI.
Bagi investor dan pelaku pasar, kondisi PMMP menjadi sinyal bahaya. Ekuitas negatif dan likuiditas yang nyaris kering menunjukkan perusahaan berada di ambang gagal bayar. Apakah rights issue dan konversi utang akan cukup untuk menyelamatkan emiten yang pernah menjadi andalan industri udang nasional ini?



