Peluru Nyasar Tembus Dada Bocah di Beksa, Polisi Buru Pemilik Senapan Angin
Baca dalam 60 detik
- Seorang anak perempuan berusia 9 tahun di Bekasi menjadi korban peluru nyasar saat bermain, kini dirawat di RS Fatmawati.
- Polisi telah mengamankan satu proyektil yang diduga dari senapan angin dan tengah memeriksa saksi-saksi di lokasi kejadian.
- Kasus ini kembali menyoroti lemahnya pengawasan kepemilikan senjata api dan senapan angin di Indonesia, yang kerap menimbulkan korban jiwa.

Seorang bocah perempuan berusia 9 tahun di Desa Lubang Buaya, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, menjadi korban peluru nyasar saat tengah asyik bermain bersama teman-temannya, Minggu (5/7). Peluru tersebut menembus bagian dada korban dan membuatnya harus dilarikan ke rumah sakit. Polisi kini tengah memburu pemilik senapan angin yang diduga menjadi sumber tembakan.
Kapolsek Setu AKP Usep Aramsyah mengungkapkan bahwa peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 16.00 WIB. Korban yang masih duduk di bangku kelas 3 SD itu tiba-tiba merasakan sakit di bagian dada. "Korban sedang bermain dengan teman-temannya, tiba-tiba merasa terkena sesuatu di bagian dadanya dan terasa sakit," kata Usep saat dikonfirmasi, Selasa (7/7).
Teman-teman korban yang melihat kejadian itu langsung berteriak meminta pertolongan. Warga sekitar yang mendengar teriakan tersebut segera membawa korban ke klinik terdekat. Karena lukanya cukup serius, korban kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Fatmawati Jakarta. "Korban saat ini masih dirawat untuk pemulihan di RS Fatmawati Jakarta dan kondisinya sudah stabil," ujar Usep.
Polisi yang menerima laporan langsung bergerak cepat. Tim dari Polsek Setu melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengumpulkan barang bukti. Dari lokasi, polisi berhasil menyita satu butir proyektil yang diduga berasal dari senapan angin. "(Barang bukti) diduga satu butir proyektil senapan angin," kata Usep. Saat ini, penyidik masih memeriksa sejumlah saksi yang berada di sekitar TKP untuk mengungkap asal tembakan.
Kasus peluru nyasar di Indonesia bukanlah hal baru. Setiap tahun, puluhan orang menjadi korban akibat kelalaian atau penyalahgunaan senjata api dan senapan angin. Di Bekasi sendiri, beberapa tahun terakhir tercatat beberapa insiden serupa, termasuk yang menimpa anak-anak. Minimnya regulasi dan pengawasan terhadap kepemilikan senapan angin menjadi celah yang kerap dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Senapan angin, meski tidak dikategorikan sebagai senjata api, memiliki daya ledak yang cukup kuat untuk melukai bahkan membunuh jika digunakan secara sembarangan.
Menurut pengamat keamanan dari Universitas Indonesia, Dr. Bambang Widodo, kasus ini seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah untuk memperketat peredaran senapan angin. "Senapan angin sering dianggap mainan, padahal proyektilnya bisa menembus kulit dan organ vital. Perlu ada izin khusus dan sanksi tegas bagi pemilik yang lalai," ujarnya. Ia juga menyarankan agar polisi tidak hanya menyelidiki kasus ini secara individual, tetapi juga melakukan razia senapan angin di wilayah rawan.
Polisi sendiri masih terus mendalami kasus ini. Hingga berita ini diturunkan, belum ada tersangka yang ditetapkan. Kapolsek Setu berjanji akan mengusut tuntas peristiwa ini. "Kami akan bekerja keras untuk menemukan pemilik senapan angin tersebut dan mempertanggungjawabkan perbuatannya," tegas Usep. Pertanyaan besarnya, akankah kasus ini menjadi titik balik untuk pengawasan senapan angin yang lebih ketat, atau akan kembali tenggelam seperti insiden-insiden sebelumnya?



