Malaysia Siapkan Cetak Biru Lansia: 1 dari 10 Warga Akan Berusia 65+ pada 2035
Baca dalam 60 detik
- Porsi penduduk Malaysia berusia 65 tahun ke atas diproyeksikan menembus 10,4% pada 2035, didorong penurunan angka kelahiran dan peningkatan harapan hidup.
- Pemerintah Malaysia akan menyusun Cetak Biru Penuaan Nasional 2025-2045 sebagai kerangka jangka panjang mencakup ekonomi, perlindungan sosial, dan perawatan kesehatan.
- Deputi Menteri Ekonomi mendorong pengembangan ekonomi perak (silver economy) dan integrasi teknologi untuk meningkatkan partisipasi lansia produktif.

Proporsi warga lanjut usia di Malaysia akan melampaui 10 persen dalam satu dekade mendatang, mendorong pemerintah mempercepat penyusunan kebijakan komprehensif untuk menghadapi transisi demografis tersebut. Menteri Ekonomi Akmal Nasrullah Mohd Nasir mengungkapkan bahwa pada 2035, sekitar 10,4 persen populasi Malaysia diperkirakan berusia 65 tahun ke atas, naik signifikan dari kondisi saat ini.
Proyeksi yang dirilis Departemen Statistik Malaysia juga mencatat angka kelahiran total (total fertility rate) akan terus menurun dari 1,67 anak per perempuan menjadi 1,6 pada periode yang sama. "Tren ini diperkirakan berlanjut karena angka kelahiran yang terus menurun dan harapan hidup yang meningkat," ujar Akmal di hadapan Dewan Rakyat, Selasa (7/7).
Menjawab kekhawatiran kesiapan nasional menghadapi masyarakat menua pada 2040 yang disampaikan anggota parlemen Mohd Nazri Abu Hassan, Akmal memaparkan bahwa pemerintah tengah mematangkan Kertas Putih Penuaan Nasional yang dijadwalkan dibahas di parlemen pada 2027. Dokumen tersebut akan menjadi landasan bagi Cetak Biru Penuaan Nasional 2025-2045, sebuah kerangka jangka panjang yang mencakup kebijakan makroekonomi dan fiskal, ketenagakerjaan, perlindungan sosial, perawatan kesehatan seumur hidup, serta perawatan jangka panjang.
Pemerintah Malaysia tidak hanya fokus pada aspek regulasi, tetapi juga memperluas program komunitas seperti Pusat Aktiviti Warga Emas (PAWE). Langkah ini bertujuan memperkuat dukungan keluarga dan komunitas, mengembangkan lingkungan ramah usia, meningkatkan literasi digital, serta mendorong pembelajaran sepanjang hayat. "Kami juga berencana memperkuat sistem perawatan jangka panjang melalui model perawatan berbasis komunitas, ekonomi perawatan, pelatihan pengasuh profesional, dan perluasan perlindungan sosial bagi kelompok rentan," tambah Akmal.
Sementara itu, Deputi Menteri Ekonomi Datuk Mohd Shahar Abdullah menekankan pentingnya pengembangan kapasitas tenaga kesehatan dan pekerja sosial untuk merawat populasi menua. Pemerintah juga berencana mengintegrasikan teknologi dan otomatisasi di sektor perawatan. "Untuk perlindungan sosial, kami memperkuat jaring pengaman dengan meningkatkan kecukupan pendapatan pensiun, memperluas cakupan perlindungan sosial, dan memberikan bantuan lebih tepat sasaran. Kami juga mengeksplorasi potensi ekonomi perak sebagai sumber pertumbuhan baru yang dapat memperluas lapangan kerja dan partisipasi ekonomi lansia produktif," jelas Mohd Shahar menjawab pertanyaan Datuk Seri Doris Sophia Anak Brodi.
Bagi Indonesia, fenomena serupa mulai terlihat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat proporsi penduduk lansia Indonesia mencapai 10,82% pada 2024, dan diperkirakan terus meningkat. Tanpa persiapan matang, ledakan jumlah lansia bisa membebani sistem kesehatan dan jaminan sosial. Malaysia memilih pendekatan terpadu dengan menggabungkan kebijakan fiskal, pelatihan tenaga kerja, dan inovasi teknologiโsebuah peta jalan yang patut dicermati oleh para pemangku kepentingan di tanah air.
Ke depan, pertanyaan krusial yang mengemuka adalah: akankah cetak biru dan kertas putih tersebut mampu menjamin kesejahteraan lansia di tengah keterbatasan anggaran dan perubahan struktur keluarga? Ataukah ekonomi perak hanya akan menjadi jargon tanpa dampak nyata bagi kelompok usia emas?



