DeepSeek Rambah Bisnis Chip AI Sendiri, Target Kurangi Ketergantungan pada Nvidia dan Huawei
Baca dalam 60 detik
- Startup AI China DeepSeek tengah mengembangkan chip kecerdasan buatan sendiri yang difokuskan untuk proses inferensi, bukan pelatihan model.
- Langkah ini merupakan respons terhadap embargo AS yang membatasi akses China ke chip Nvidia canggih, sekaligus memperketat persaingan dengan Huawei dan raksasa teknologi lain.
- Jika berhasil, DeepSeek akan bergabung dengan OpenAI dan Anthropic dalam upaya menguasai rantai pasok perangkat keras AI, meski tantangan desain dan manufaktur masih membayangi.

Startup kecerdasan buatan asal China, DeepSeek, dikabarkan tengah mengembangkan chip AI sendiri, sebuah langkah strategis yang dapat mengubah peta persaingan industri semikonduktor di Negeri Tirai Bambu. Inisiatif ini bertujuan mengurangi ketergantungan perusahaan pada pasokan chip dari Nvidia dan Huawei, yang selama ini menjadi tulang punggung operasional model-model AI mereka yang mendunia.
Menurut tiga sumber yang mengetahui langsung rencana tersebut, chip yang dikembangkan DeepSeek dirancang khusus untuk proses inferensi โ tahap komputasi AI di mana model yang telah dilatih memberikan respons kepada pengguna โ bukan untuk melatih model baru. Fokus ini menandai pergeseran prioritas seiring meningkatnya permintaan komputasi inferensi yang lebih hemat daya dan biaya dibandingkan pelatihan model.
Jika sukses, langkah DeepSeek masuk ke pengembangan semikonduktor akan menjadi perubahan besar bagi perusahaan yang selama ini dikenal sebagai jawara AI China. Pencapaian ini juga berpotensi menambah tekanan pada Huawei, yang saat ini menguasai sekitar setengah dari pasar chip AI domestik senilai US$50 miliar berkat larangan ekspor AS terhadap chip Nvidia paling canggih. Namun, dominasi Huawei mulai tergerus karena Alibaba dan Baidu juga mengembangkan chip AI mereka sendiri.
Upaya DeepSeek masih berada pada tahap awal. Perusahaan yang berbasis di Hangzhou itu telah menjalin komunikasi dengan mitra eksternal, termasuk perusahaan desain chip, pabrik pengecoran, dan produsen memori. Proyek ini dimulai sekitar setahun lalu, dan dalam beberapa bulan terakhir DeepSeek gencar merekrut insinyur desain chip secara tertutup, tanpa memasang iklan lowongan di platform publik.
Langkah DeepSeek mencerminkan tren global di kalangan pengembang AI untuk mengendalikan sendiri perangkat keras di balik model mereka. OpenAI baru saja meluncurkan chip inferensi pertamanya, Jalapeno, yang dikembangkan bersama Broadcom, sementara Anthropic dikabarkan juga tengah mempertimbangkan pembuatan chip AI sendiri. Bagi DeepSeek, ada dimensi strategis tambahan: sanksi AS yang melarang perusahaan China membeli chip Nvidia paling mutakhir, dan desakan Beijing agar perusahaan teknologi dalam negeri membangun alternatif mandiri.
Pendiri DeepSeek, Liang Wenfeng, dalam sebuah wawancara langka pada 2024 mengakui bahwa pembatasan ekspor chip menjadi tantangan bagi perusahaannya. DeepSeek selama ini menggunakan chip Nvidia H800 โ yang dirancang khusus untuk pasar China dan kemudian dilarang Washington pada akhir 2023 โ untuk melatih model R1 yang sempat mengguncang pasar saham AS pada Januari 2025. Belakangan, perusahaan semakin beralih ke chip Huawei Ascend, bahkan merilis model V4 yang diadaptasi untuk prosesor tersebut.
Meski ambisius, jalan menuju chip buatan sendiri tidaklah mudah. Mendesain chip AI yang kompetitif biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun dan investasi besar. Hambatan manufaktur juga mengintai karena AS melarang perancang China mengakses pabrik pengecoran luar negeri paling canggih, serta membatasi akses ke memori bandwidth tinggi yang penting bagi chip inferensi. Di sisi lain, langkah DeepSeek bertepatan dengan keputusan perusahaan untuk pertama kalinya menerima pendanaan eksternal: putaran pendanaan senilai US$7 miliar dengan valuasi antara US$52 miliar hingga US$59 miliar, membalikkan strategi bertahun-tahun yang menolak investasi luar.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat akan pentingnya kemandirian teknologi di tengah ketegangan geopolitik. Meski ekosistem AI dan semikonduktor di Tanah Air masih tertinggal, langkah DeepSeek menunjukkan bahwa negara berkembang sekalipun dapat membangun kapabilitas strategis jika didukung kebijakan yang tepat. Pertanyaannya, akankah Indonesia mampu memanfaatkan pelajaran dari China untuk memperkuat posisinya dalam rantai pasok AI global?



