Bitcoin Tembus US$63.700 di Tengah Aksi Jual Strategy Inc. dan Data Tenaga Kerja AS yang Loyo
Baca dalam 60 detik
- Harga Bitcoin melonjak ke US$63.716 setelah data Nonfarm Payrolls AS jauh di bawah ekspektasi, memicu short squeeze dan meredakan kekhawatiran kenaikan suku bunga.
- Strategy Inc. menjual 3.588 Bitcoin senilai US$216 juta, menandai perubahan kebijakan dari pembeli satu arah menjadi penjual aktif yang berpotensi menambah tekanan jual.
- Pasar kripto global merespons positif dengan arus masuk ETF spot Bitcoin mencapai US$221,7 juta, mengakhiri tren outflow 10 hari berturut-turut.

Bitcoin mencatat lonjakan signifikan ke level US$63.716 pada Senin (8/7), didorong oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang mengecewakan dan aksi jual besar-besaran oleh Strategy Inc., perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai pembeli agresif aset kripto.
Laporan Nonfarm Payrolls (NFP) Juni hanya mencatat penambahan 57.000 lapangan kerja, jauh di bawah perkiraan pasar. Angka ini meredakan spekulasi bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, sehingga menekan imbal hasil obligasi dan indeks dolar AS. Bagi Bitcoin, kondisi ini menurunkan biaya oportunitas kepemilikan aset digital yang tidak memberikan imbal hasil tetap.
Di sisi lain, Strategy Inc. (sebelumnya MicroStrategy) mengonfirmasi telah menjual 3.588 Bitcoin antara 29 Juni dan 5 Juli dengan total nilai sekitar US$216 juta. Penjualan dilakukan dalam dua tahap: 1.363 BTC pada harga rata-rata US$59.256, dan 2.225 BTC pada harga rata-rata US$60.773. Harga jual ini jauh di bawah harga beli rata-rata perusahaan sebesar US$75.476 per koin. Langkah ini menandai perubahan fundamental dalam strategi perusahaan yang selama ini dikenal sebagai pembeli satu arah.
Menurut analis kripto, kebijakan baru Strategy Inc. untuk menjual Bitcoin guna memenuhi kewajiban korporasi, seperti distribusi saham, menciptakan risiko dua arah bagi pasar. "Ini adalah sumber tekanan jual baru yang signifikan," ujar seorang analis yang enggan disebutkan namanya. Meskipun perusahaan masih memegang 843.775 BTC, langkah ini mengubah dinamika pasar yang sebelumnya didominasi oleh sentimen bullish dari pembelian institusional.
Lonjakan harga Bitcoin juga diperkuat oleh mekanisme derivatif. Ketika harga menembus level US$62.000, lebih dari US$450 juta posisi short terlikuidasi secara paksa, memicu aksi beli balik yang mempercepat kenaikan. Fenomena short squeeze ini menjadi katalis tambahan di tengah sentimen positif dari data makro.
Dari sisi teknikal, Bitcoin berhasil merebut kembali level US$63.000 dan rata-rata pergerakan 7 hari (SMA) di US$61.338. Resistance kunci berada di kisaran US$65.000โUS$67.000, yang bertepatan dengan level retracement Fibonacci 38,2% (US$63.619) dan EMA 30 hari (US$63.524). Jika berhasil ditembus, target berikutnya adalah US$69.500. Namun, analis memperingatkan bahwa penutupan harian di bawah US$62.600 dapat membatalkan reli jangka pendek.
Bagi investor di Indonesia, pergerakan ini memberikan sinyal campuran. Di satu sisi, data makro AS yang lemah dapat mendorong aliran modal ke aset berisiko seperti kripto. Namun, aksi jual oleh pemegang besar seperti Strategy Inc. mengingatkan bahwa tekanan jual institusional masih mengintai. Regulator di Indonesia sendiri terus memperketat pengawasan perdagangan aset kripto, meskipun minat ritel tetap tinggi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Bitcoin mampu mempertahankan momentum di atas US$65.000 atau justru kembali tertekan oleh aksi jual lanjutan. Dengan ETF spot yang mulai mencatat arus masuk positif dan data tenaga kerja yang lemah, pasar seolah mendapat angin segar. Namun, kebijakan moneter The Fed yang masih belum jelas arahnya bisa menjadi batu sandungan kapan saja.



