XRP Terjegal Resistensi Teknis, Lisensi MiCA Ripple di Eropa Belum Cukup Dongkrak Harga
Baca dalam 60 detik
- Harga XRP jatuh ke $1,12 setelah gagal menembus level resistensi $1,15, sementara Bitcoin relatif stabil.
- Lisensi MiCA yang diraih Ripple di Uni Eropa pada 6 Juli belum mampu mendorong permintaan token XRP dalam jangka pendek.
- Pasar menunggu katalis berikutnya, seperti perkembangan CLARITY Act dan arus masuk ETF yang telah positif selama sembilan pekan.

Harga XRP terpantau melemah ke level $1,12 pada Selasa (8/7), tertinggal dari pergerakan Bitcoin yang cenderung datar, setelah gagal menembus zona resistensi kunci di $1,15. Penolakan teknis ini terjadi di tengah kabar positif Ripple yang baru saja mengantongi lisensi penuh Markets in Crypto-Assets (MiCA) di Uni Eropa, sebuah pencapaian yang justru belum mampu mendongkrak permintaan token XRP.
Data perdagangan menunjukkan XRP sempat mencoba mendekati $1,1507, namun langsung dihadang aksi jual yang membentuk pola lower-high pada grafik intraday. Volume jual terbesar tercatat di dekat level terendah sesi $1,1110, yang meskipun bertahan, gagal memicu pemulihan berkelanjutan. Zona $1,14โ$1,15 kini dianggap sebagai area suplai yang keras, dan para pelaku pasar menilai dibutuhkan volume beli yang jauh lebih tinggi untuk menembusnyaโsetidaknya melampaui rata-rata volume 24 jam sebesar 1,81 miliar.
Koreksi XRP juga terjadi di tengah pelemahan sektor altcoin secara umum. Indeks CMC Altcoin Season turun 2,08% ke angka 47, mengindikasikan minat yang masih terfokus pada Bitcoin. Menurut analis, lisensi MiCA yang diraih Ripple pada 6 Juli lalu lebih menguntungkan bisnis korporasi Ripple dibandingkan token XRP dalam jangka pendek. Hal ini menjelaskan mengapa sentimen positif tersebut tidak serta-merta mendorong harga.
Dari sisi fundamental, Ripple memang mencatat kemajuan regulasi di Eropa, namun pasar justru lebih fokus pada dinamika teknis jangka pendek. Para trader mencatat bahwa XRP saat ini berkonsolidasi di antara support $1,11 dan resistance $1,15. Pergerakan selanjutnya akan ditentukan oleh level mana yang lebih dulu ditembus. Jika XRP mampu ditutup di atas $1,15 dengan volume tinggi, sinyal breakout akan terkonfirmasi. Sebaliknya, kehilangan $1,11 berpotensi membuka jalan menuju koreksi lebih dalam.
Pelepasan escrow bulanan sebanyak 1 miliar XRP pada 1 Juli lalu, yang merupakan agenda rutin, tidak menimbulkan tekanan jual berarti karena sebagian besar token biasanya dikunci kembali. Namun, sentimen pasar masih dibayangi oleh ketidakpastian regulasi di Amerika Serikat, terutama terkait RUU CLARITY Act yang masih dalam proses legislasi. Di sisi lain, arus masuk dana ETF XRP dilaporkan positif selama sembilan pekan berturut-turut, memberikan sedikit bantalan bagi harga.
Bagi investor Indonesia, pergerakan XRP ini relevan mengingat tingginya minat terhadap aset kripto di tanah air. Meski regulasi di Indonesia masih terus berkembang, lisensi MiCA yang diperoleh Ripple di Eropa dapat menjadi preseden positif bagi adopsi institusional secara global. Namun, dalam jangka pendek, harga XRP tampaknya akan lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen pasar dan level teknis dibandingkan kabar fundamental semata. Pertanyaan besarnya: mampukah XRP mengumpulkan momentum untuk menembus $1,15, atau justru akan terkoreksi lebih dalam menunggu katalis berikutnya?



