Messi vs Salah: Dua Legenda di Persimpangan Jalan Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Argentina dan Mesir akan bertemu di babak 16 besar Piala Dunia 2026, mempertemukan Lionel Messi dan Mohamed Salah yang sama-sama memasuki senja karier.
- Messi, yang sudah menjadi juara dunia dan pemecah rekor, menghadapi tekanan untuk mempertahankan gelar, sementara Salah berusaha membawa Mesir melangkah lebih jauh dari sebelumnya.
- Pertandingan ini juga menyoroti ketergantungan Argentina pada Messi dan peran Salah sebagai simbol kebanggaan nasional Mesir.

Lionel Messi dan Mohamed Salah akan saling berhadapan di Atlanta pada Selasa (17:00 BST) dalam laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Argentina dan Mesir. Pertandingan ini bukan sekadar perebutan tiket ke perempat final, melainkan juga pertemuan dua ikon sepak bola yang sedang berada di ujung perjalanan karier mereka.
Messi, yang kini berusia 39 tahun, telah mengisyaratkan bahwa turnamen ini akan menjadi Piala Dunia terakhirnya. Sementara itu, Salah yang berusia 34 tahun masih berharap bisa tampil pada edisi 2030. Perbedaan nasib keduanya di panggung dunia sangat kontras: Messi adalah juara dunia bertahan, pencetak gol terbanyak sepanjang masa turnamen, dan pemain dengan penampilan terbanyak. Sebaliknya, bagi Salah, ini adalah kali pertama Mesir lolos ke fase gugur setelah tiga partisipasi sebelumnya selalu kandas di babak grup.
Bagi Argentina, kata yang paling sering terdengar adalah "bicampeonato"—impian meraih gelar juara dunia dua kali berturut-turut, sebuah prestasi yang hanya pernah dicapai Italia (1934 dan 1938) serta Brasil (1958 dan 1962). Namun, di balik ambisi itu, ada kekhawatiran yang tak terucapkan: apa yang akan terjadi setelah Messi pensiun? Setiap pertandingan yang dilakoni Argentina membawa mereka selangkah lebih dekat menuju kejayaan, tetapi juga mendekatkan publik pada perpisahan dengan ikon terbesar mereka.
Messi tampil gemilang di turnamen ini dengan torehan tujuh gol, termasuk rekor mencetak gol dalam delapan pertandingan Piala Dunia beruntun. Penampilannya seolah tak menua—ia bermain seperti masih berusia 25 tahun. Namun, para pengamat sepak bola Argentina justru mengkritik bahwa tim nasional kembali menjadi "Messi-dependent". Dari 11 gol Argentina di Piala Dunia ini, hanya empat yang tidak dicetak oleh Messi. Dua striker utama, Lautaro Martinez dan Julian Alvarez, lebih sering berperan sebagai pemasok bola, sementara gelandang kreatif seperti Enzo Fernandez dan Alexis Mac Allister lebih fokus bertahan daripada menyerang.
Fenomena ini ironis mengingat salah satu pencapaian terbesar pelatih Lionel Scaloni adalah membangun tim yang melengkapi Messi, bukan sekadar bergantung padanya. Sebelum Scaloni, Argentina mengalami serangkaian kegagalan pahit—kekalahan di final Piala Dunia 2014 dan dua final Copa America (2015, 2016) melalui adu penalti. Kini, ketergantungan pada Messi kembali mencuat, seolah semakin dekat dengan kepergian sang idola, semakin besar pula kebutuhan akan dirinya.
Di sisi lain, Mohamed Salah bukan sekadar pemain sepak bola bagi Mesir. Ia adalah simbol kebanggaan, kegembiraan, dan inspirasi. Kisahnya yang bermula dari desa kecil Nagrig hingga panggung stadion terbesar dunia membuat setiap warga Mesir merasa bangga. Salah menunjukkan bahwa kerja keras dan keyakinan dapat mengubah mimpi menjadi kenyataan. Kerendahan hati, ketenangan, dan rasa hormatnya membuat ia dicintai banyak orang. Ketika Mesir mengalahkan Australia melalui adu penalti di babak sebelumnya, seluruh negeri larut dalam euforia. Salah menjadi pusat perasaan itu—memimpin, menginspirasi, dan memberikan kepercayaan kepada semua orang.
Bagi Mesir, kehadiran Salah di lapangan mengubah atmosfer pertandingan. Ia mampu menyatukan bangsa dan menciptakan momen yang tak terlupakan. Namun, tantangan kali ini jauh lebih berat. Argentina adalah juara bertahan dengan skuad yang dihuni pemain-pemain kelas dunia. Mesir harus tampil sempurna jika ingin melangkah lebih jauh. Pertanyaan besarnya: mampukah Salah mengulang keajaiban seperti yang ia lakukan di babak sebelumnya, atau justru Messi yang akan kembali menunjukkan kelasnya?
Pertandingan ini juga menjadi cermin bagi sepak bola Indonesia. Ketergantungan pada satu pemain bintang sering kali menjadi dilema, seperti halnya Argentina dengan Messi atau Mesir dengan Salah. Pelajaran yang bisa diambil adalah pentingnya membangun tim yang solid tanpa terlalu bergantung pada individu. Bagi Indonesia yang tengah mengembangkan sepak bola nasional, momen seperti ini bisa menjadi bahan evaluasi untuk menciptakan keseimbangan antara bintang dan kolektivitas tim.



