Hilirisasi Nikel RI Makin Dalam: CNGR Siapkan Prekursor Baterai pada 2026
Baca dalam 60 detik
- CNGR Indonesia akan memproduksi prekursor NMC pada 2026, memperdalam hilirisasi nikel di dalam negeri.
- Larangan ekspor bijih nikel telah mendorong Indonesia menjadi eksportir nikel olahan terbesar global.
- Dengan enam turunan nikel, Indonesia berpotensi menjadi pusat industri baterai dunia, meski tantangan investasi dan teknologi masih membayangi.

Indonesia semakin serius mengejar ambisi menjadi pusat industri baterai kendaraan listrik (EV) dunia. Produsen pengolahan nikel dan bahan baku baterai, CNGR Indonesia, mengumumkan rencana produksi prekursor nickel manganese cobalt (NMC) pada 2026, menandai babak baru hilirisasi nikel yang lebih dalam.
Direktur Eksternal Relations CNGR Indonesia, Magdalena Veronika, menilai kebijakan larangan ekspor bijih nikel yang diterapkan pemerintah sejak beberapa tahun lalu menjadi titik balik strategis. Langkah itu, menurutnya, memicu pembangunan smelter dan fasilitas pemurnian yang mengolah nikel menjadi produk bernilai tambah tinggi, baik untuk industri baja maupun baterai EV. Hasilnya, Indonesia kini menjelma menjadi eksportir nikel olahan terbesar di dunia.
Dalam lima tahun terakhir, CNGR Indonesia telah mengembangkan hilirisasi nikel hingga mampu memproduksi nikel dengan kemurnian 99,9% yang diperdagangkan di bursa komoditas global. Pada 2026, perusahaan akan melangkah lebih jauh dengan memproduksi prekursor NMC, bahan baku utama baterai lithium-ion. Saat ini, CNGR telah menghasilkan enam jenis turunan nikel, menunjukkan progres signifikan dalam rantai pasok baterai.
Bagi Indonesia, langkah ini memiliki implikasi besar. Dengan menguasai rantai pasok dari hulu ke hilir, Indonesia tidak hanya mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan nilai tambah ekonomi. Namun, tantangan tetap ada, seperti kebutuhan investasi besar, transfer teknologi, dan persaingan dengan negara lain seperti China dan Korea Selatan yang sudah lebih dulu menguasai industri baterai.
Menurut Magdalena, optimisme industri didukung oleh momentum global menuju elektrifikasi kendaraan. Permintaan baterai EV diperkirakan terus melonjak, dan Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat sebagai pemasok nikel olahan. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan jangka panjang membutuhkan konsistensi kebijakan dan dukungan infrastruktur.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah: mampukah Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga produsen baterai jadi? Dengan langkah CNGR Indonesia, setidaknya fondasi menuju pusat industri baterai dunia mulai terlihat kokoh.



