Faik Fahmi Resmi Pimpin Pelita Air, Targetkan Transformasi Bisnis Penerbangan
Baca dalam 60 detik
- Pelita Air menunjuk Faik Fahmi sebagai direktur utama, menggantikan posisi sebelumnya yang kosong.
- Faik Fahmi, eks direktur utama Angkasa Pura I, diharapkan membawa pengalaman manajemen bandara ke maskapai milik Pertamina.
- Penunjukan ini menjadi sinyal penguatan bisnis penerbangan nasional di tengah persaingan ketat pascapandemi.

Faik Fahmi resmi ditunjuk sebagai Direktur Utama Pelita Air, maskapai penerbangan milik PT Pertamina (Persero). Penunjukan ini diumumkan oleh Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) melalui media sosial pada Selasa (7/7/2026), menandai babak baru bagi perusahaan yang tengah berupaya memperkuat posisinya di industri penerbangan domestik.
INACA menyambut baik kepemimpinan baru ini dengan harapan Faik Fahmi mampu melanjutkan transformasi bisnis Pelita Air. Dalam pernyataan resminya, INACA menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pemangku kepentingan untuk mendorong pertumbuhan sektor penerbangan nasional. โMari bersama-sama INACA meningkatkan industri penerbangan nasional untuk mendukung perkembangan perekonomian Indonesia,โ tulis akun resmi INACA.
Faik Fahmi bukanlah nama baru di dunia penerbangan Indonesia. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Direktur Utama PT Angkasa Pura I (AP1) sejak 22 Desember 2017. Pengalamannya mengelola bandara-bandara di kawasan timur Indonesia menjadi modal berharga untuk memimpin Pelita Air yang tengah berekspansi. Lulusan S1 Ekonomi Manajemen Universitas Gadjah Mada (1993) dan S2 Magister Manajemen Universitas Bina Nusantara (2020) ini diharapkan mampu membawa perspektif baru dalam pengelolaan maskapai.
Penunjukan Faik Fahmi terjadi di tengah persaingan ketat maskapai domestik. Pelita Air, yang sebelumnya dikenal sebagai maskapai charter, kini gencar memperluas layanan penerbangan berjadwal. Dengan latar belakang Faik di AP1, analis memperkirakan akan ada sinergi antara pengelolaan bandara dan operasional maskapai. Hal ini bisa menjadi keunggulan kompetitif, terutama dalam hal efisiensi slot penerbangan dan biaya operasional.
Bagi pembaca di Indonesia, pergantian pucuk pimpinan ini memiliki implikasi langsung. Pelita Air selama ini menjadi salah satu pemain yang diandalkan untuk konektivitas antarwilayah, khususnya di kawasan timur Indonesia. Dengan kepemimpinan baru, masyarakat dapat mengharapkan peningkatan kualitas layanan dan perluasan rute. Di sisi lain, investor dan pelaku industri akan mencermati langkah Faik dalam mengelola biaya bahan bakarโmengingat Pertamina sebagai induk usahaโserta strategi menghadapi persaingan harga tiket.
Ke depan, tantangan utama Faik Fahmi adalah mempertahankan momentum pertumbuhan Pelita Air di tengah fluktuasi harga avtur dan ketatnya regulasi penerbangan. Pertanyaannya, akankah pengalaman manajerialnya di AP1 cukup untuk membawa Pelita Air menjadi maskapai papan atas di Indonesia? Atau justru akan muncul strategi baru yang lebih agresif?



