Jembatan Enang-Enang Diperkuat, Pemerintah Akomodir Kebutuhan Warga Bener Meriah
Baca dalam 60 detik
- Satgas PRR memutuskan memperkuat Jembatan Enang-Enang di Bener Meriah setelah warga bergotong royong memperbaikinya secara swadaya.
- Tiga langkah penanganan disepakati: pelebaran jalan alternatif, pembangunan jembatan permanen baru, dan perkuatan struktur jembatan eksisting.
- Kendaraan besar masih dilarang melintas hingga kajian teknis selesai, sementara jembatan permanen baru ditargetkan mulai dibangun 2027.

Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra memastikan Jembatan Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, akan diperkuat strukturnya. Keputusan ini diambil setelah mendengar langsung aspirasi warga Kampung Arul Cincin, Kecamatan Pintu Rime Gayo, yang sebelumnya bergotong royong memperbaiki jembatan tersebut secara mandiri demi menjaga mobilitas ekonomi dan pendidikan mereka.
Ketua Satgas PRR, Muhammad Tito Karnavian, mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyepakati tiga langkah penanganan di kawasan tersebut. Langkah-langkah itu meliputi pelebaran jalan alternatif melalui Simpang Werlah, pembangunan jembatan permanen baru, serta perkuatan struktur Jembatan Enang-Enang. "Kita sudah sepakat. Pertama, jalan alternatif Werlah akan diperlebar dan diperbaiki oleh Balai PU. Kedua, jembatan permanen akan tetap dibangun oleh Kementerian PU karena memang penting untuk masyarakat Tanah Gayo," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (7/7).
Keputusan mempertahankan fungsi Jembatan Enang-Enang didasari oleh pertimbangan efisiensi akses. Menurut Tito, jika masyarakat harus menggunakan jalur alternatif, jarak tempuh menjadi lebih jauh dan biaya transportasi meningkat. Namun, aspek keselamatan tetap menjadi prioritas. "Saya tadi tanya kenapa masyarakat tetap ingin memakai jembatan ini. Ternyata kalau harus memutar, jaraknya jauh, biaya bensin juga bertambah. Karena itu jembatan ini tetap akan difungsikan," kata dia. Meski demikian, kendaraan bertonase besar masih dilarang melintas hingga kajian teknis selesai dilakukan.
Pelaksana Tugas Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh, Zulkarnaini, menjelaskan bahwa pekerjaan perkuatan akan difokuskan pada fondasi dan abutment yang mengalami kerusakan akibat bencana. "Material sebagian sudah sampai di lokasi dan dalam minggu ini pekerjaan perkuatan akan kami mulai," ucapnya. Penanganan jangka pendek ini diharapkan dapat memulihkan fungsi jembatan secara aman sementara waktu.
Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan pembangunan jembatan permanen baru yang lokasinya tidak jauh dari Jembatan Enang-Enang. Jembatan dengan bentang sekitar 300 meter itu dirancang menjadi solusi jangka panjang bagi konektivitas di kawasan Tanah Gayo. Penyempurnaan desain ditargetkan berlangsung sepanjang 2026, sedangkan pekerjaan fisik direncanakan dimulai pada 2027 setelah seluruh kajian teknis selesai. Selain itu, jalan alternatif Simpang Werlah akan diperlebar dari empat meter menjadi enam meter, dan jembatan permanen di jalur tersebut juga akan dibangun agar kendaraan bertonase besar tetap memiliki akses selama pembangunan berlangsung.
BPJN Aceh juga telah mengalokasikan anggaran untuk membangun sejumlah jembatan permanen lain di kawasan terdampak. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemulihan infrastruktur pascabencana di Kabupaten Bener Meriah. Dengan adanya perkuatan dan pembangunan baru, diharapkan konektivitas warga dapat pulih sepenuhnya tanpa mengorbankan keselamatan. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah jadwal pembangunan jembatan permanen dapat terealisasi tepat waktu mengingat kompleksitas kajian teknis yang diperlukan.



