Kartu Merah Quansah: FA Pertimbangkan Banding di Tengah Kontroversi Aturan FIFA
Baca dalam 60 detik
- FA tengah mengkaji opsi banding atas kartu merah Jarell Quansah setelah insiden tekel keras saat Inggris vs Meksiko.
- Keputusan FIFA yang membatalkan sanksi Folarin Balogun atas intervensi politik memicu gelombang protes dari berbagai federasi.
- Kartu merah Quansah berpotensi membuatnya absen dua laga, memperparah masalah cedera di posisi bek kanan Inggris.

Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) tengah mempertimbangkan langkah banding atas kartu merah yang diterima bek Jarell Quansah dalam laga Inggris kontra Meksiko di Piala Dunia, menyusul preseden kontroversial yang diciptakan FIFA saat membatalkan sanksi pemain Amerika Serikat, Folarin Balogun.
Quansah diusir wasit pada menit ke-54 setelah tekel tinggi terhadap Jesus Gallardo. Pelanggaran tersebut dikategorikan sebagai pelanggaran keras, sehingga bek Bayer Leverkusen itu terancam hukuman larangan bermain dua pertandingan. Situasi ini menjadi dilema bagi FA, mengingat aturan Piala Dunia sebenarnya tidak mengizinkan banding atas kartu merah.
Namun, keputusan FIFA yang membatalkan skorsing Balogun melalui klausul Article 27—yang belum pernah digunakan sebelumnya di Piala Dunia—membuka celah hukum bagi federasi lain untuk mengajukan protes. Klausul tersebut memberikan kewenangan penuh kepada FIFA untuk mengambil keputusan tanpa harus memenuhi kriteria tertentu. Langkah ini menuai kritik tajam dari berbagai pihak, termasuk UEFA, Federasi Sepak Bola Belgia, dan pelatih Inggris Thomas Tuchel.
Kontroversi ini menyoroti inkonsistensi regulasi FIFA. Dalam kasus Balogun, otoritas AS berdalih bahwa tidak ada unsur kesengajaan dalam pelanggarannya. Namun, para pengamat menegaskan bahwa konsep 'intent' telah dihapus dari hukum sepak bola bertahun-tahun lalu; yang dinilai adalah hasil akhir dari sebuah tekel. Kartu merah Balogun sendiri tidak dicabut—secara efektif ia hanya mendapat 'sin-bin'—tetapi keputusan FIFA tetap dianggap sebagai intervensi politik yang tidak lazim.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi pelajaran berharga. Di tengah upaya PSSI meningkatkan standar wasit dan regulasi, kasus seperti ini menunjukkan betapa pentingnya konsistensi aturan dan independensi pengambilan keputusan. Jika FIFA bisa meloloskan banding atas dasar intervensi eksternal, bukan tidak mungkin federasi lain—termasuk dari Asia—akan memanfaatkan celah serupa di masa depan.
Kartu merah Quansah juga memperparah masalah yang sudah lama menghantui Inggris: posisi bek kanan. Pelatih Thomas Tuchel telah menggunakan enam pemain berbeda di posisi tersebut selama turnamen, termasuk Reece James yang masih cedera hamstring sejak laga melawan Ghana. Quansah sendiri sebelumnya mengalami cedera saat melawan Panama, namun dinyatakan fit untuk bermain melawan Meksiko. Dengan James diperkirakan kembali untuk perempat final melawan Norwegia, absennya Quansah bisa menjadi pukulan telak bagi kedalaman skuad.
Pertanyaan besarnya kini: apakah FA akan mengambil risiko mengikuti jejak AS dengan mengajukan banding, atau justru memilih untuk tidak memperkeruh situasi demi menjaga hubungan dengan FIFA? Keputusan ini tidak hanya akan menentukan nasib Quansah, tetapi juga bisa menjadi preseden baru dalam penegakan disiplin di Piala Dunia.



