KTT NATO di Ankara: Pamer Kontrak Senjata demi Merayu Trump
Baca dalam 60 detik
- NATO mengumumkan kontrak militer senilai miliaran dolar di KTT Ankara untuk meredakan kemarahan Trump atas kurangnya kontribusi Eropa.
- Pakta pertahanan itu berupaya membuktikan komitmen belanja pertahanan lima persen PDB, di tengah gesekan soal perang Iran dan Ukraina.
- Eropa mulai menerima realitas pengurangan peran AS, sambil berusaha mempertahankan keterlibatan Washington dalam keamanan benua.

NATO membuka gelaran puncak tahunannya di Ankara, Turki, dengan serangkaian kontrak persenjataan bernilai miliaran dolar pada Selasa (7/7), sebuah langkah yang dirancang untuk meredam kemarahan Presiden AS Donald Trump terhadap sekutu Eropa yang dinilai kurang berkontribusi dalam aliansi. Pertemuan dua hari di istana kepresidenan Ankara itu menjadi ajang unjuk gigi negara-negara anggota untuk menunjukkan bahwa mereka serius meningkatkan belanja pertahanan, setahun setelah berjanji mengalokasikan lima persen produk domestik bruto (PDB) untuk sektor keamanan.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menegaskan bahwa negara-negara Eropa telah "menepati janji" dengan memperkuat anggaran militer dan mengambil lebih banyak tanggung jawab atas pertahanan benua mereka di tengah ancaman Rusia. "Sekutu dan industri dari kedua sisi Atlantik akan mengumumkan proyek-proyek besar baru dan menandatangani kontrak senilai miliaran dolar," ujar Rutte. Ia menambahkan bahwa investasi itu tidak hanya untuk keamanan, tetapi juga mendorong perekonomian dan menciptakan ratusan ribu lapangan kerja baru.
Di antara kesepakatan awal yang diumumkan adalah kontrak untuk pesawat nirawak (drone), pesawat pengisian bahan bakar, dan pesawat pengintai yang dirancang untuk memperkuat kemampuan Eropa melindungi diri sendiri. Namun, langkah ini belum cukup meredakan kekesalan Trump, yang masih kesal karena sejumlah negara Eropa membatasi penggunaan pangkalan militer AS untuk menyerang Iran. Dalam unggahan di Truth Social pekan lalu, Trump menyebut hubungan yang tidak timbal balik itu "konyol" dan mengecam sekutu yang tidak mendukung AS.
Para pemimpin Eropa berharap setidaknya dapat menghindari pertikaian terbuka dengan presiden AS yang temperamental, yang dapat semakin merusak kredibilitas NATO. Trump berulang kali meragukan komitmen Washington untuk melindungi sekutunya. Para diplomat mengandalkan hubungan baik Trump dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan serta upaya diplomatik Rutte untuk menjaga suasana tetap kondusif. Namun, dengan rekam jejak Trump yang kerap berseteru dengan pemimpin lain—terbaru Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni—banyak potensi gesekan yang bisa memicu kemarahannya.
Dalam upaya menunjukkan itikad baik soal Iran, sekutu Eropa yang dipimpin Prancis dan Inggris telah menyusun misi angkatan laut potensial di Selat Hormuz dan memindahkan kapal perang lebih dekat ke kawasan tersebut. Namun, situasi masih fluktuatif dan Eropa menunggu kejelasan tentang kesepakatan rapuh AS dengan Iran sebelum mengirimkan armada mereka. Sementara itu, para pemimpin Eropa mulai menerima kenyataan bahwa AS perlahan-lahan menarik diri dari aliansi. Washington telah menegaskan ingin sekutu memimpin pertahanan konvensional benua dan baru-baru ini mengurangi aset yang disediakan untuk komandan NATO.
Negara-negara Eropa kini berusaha membuktikan kesiapan mereka memainkan peran lebih besar sambil tetap berupaya mempertahankan keterlibatan AS dan kekuatan militernya yang masif. "Semua ini adalah bukti perubahan pola pikir yang nyata," kata Rutte. "Ini adalah NATO 3.0. Eropa yang lebih kuat dalam NATO yang lebih kuat." Selain mengambil alih tanggung jawab pertahanan sendiri, Eropa juga hampir sepenuhnya menanggung dukungan untuk Ukraina setelah AS mengurangi bantuannya. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, yang menghadiri jamuan makan malam para pemimpin pada Selasa, dijadwalkan mendapatkan komitmen dari pendukung Eropa untuk mengucurkan setidaknya €70 miliar (US$80 miliar) bantuan militer per tahun pada 2026 dan 2027.
Zelenskyy mendesak aliansi untuk mengambil "keputusan tegas" meningkatkan pertahanan udara Ukraina setelah bombardir Rusia yang menewaskan hampir 30 orang. Pemimpin Ukraina itu akan berusaha meyakinkan Trump—yang telah menelepon Presiden Rusia Vladimir Putin sebelum KTT—bahwa Kyiv mulai membalikkan keadaan perang dan mendesak Moskow kembali ke meja perundingan damai yang serius. Pertemuan puncak ini menjadi ujian bagi kohesi NATO di tengah pergeseran geopolitik yang cepat, termasuk bagi Indonesia yang mengamati dinamika keamanan global sebagai negara non-blok aktif. Bagaimana Eropa menyeimbangkan otonomi pertahanan dengan ketergantungan pada AS akan menentukan masa depan arsitektur keamanan Eropa—dan dampaknya terhadap stabilitas kawasan Indo-Pasifik.



