Duet Kane-Bellingham Jadi Mesin Gol Inggris: 90,9% Kontribusi di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Harry Kane dan Jude Bellingham mencetak 10 dari 11 gol Inggris di Piala Dunia 2026, atau 90,9% total gol tim.
- Ketergantungan pada duet ini tertinggi di antara semua tim yang tersisa, bahkan melampaui ketergantungan Prancis pada Mbappe-Dembele.
- Sejarah mencatat Inggris pernah gagal di semifinal saat terlalu bergantung pada dua pemain, menjadi ujian bagi Tuchel melawan Norwegia.

Ketergantungan Timnas Inggris pada duet Harry Kane dan Jude Bellingham di Piala Dunia 2026 mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya: keduanya menyumbang 10 dari 11 gol yang dicetak The Three Lions sejauh turnamen. Persentase kontribusi 90,9% itu menjadi yang tertinggi di antara semua tim yang masih bertahan, bahkan melampaui ketergantungan Prancis pada Kylian Mbappe dan Ousmane Dembele yang mencapai 78,6%.
Dalam laga babak 16 besar melawan Meksiko di Stadion Azteca, Kane dan Bellingham kembali menjadi penentu kemenangan 3-2. Bellingham membuka skor, lalu Kane memberi assist untuk gol cepat kedua pemain Real Madrid itu. Setelah Inggris bermain dengan 10 pemain akibat kartu merah Jarell Quansah, Kane menuntaskan penalti penentu kemenangan. Momen itu mempertegas bahwa nasib Inggris di turnamen ini nyaris sepenuhnya bergantung pada performa keduanya.
Data statistik memperkuat dominasi mereka. Kane bertanggung jawab atas 34,6% expected goals (xG) Inggris, sementara Bellingham menambah 20,3%โtotal 54,9% dari seluruh ancaman serangan. Dari segi tembakan, Kane melepaskan 23,8% total percobaan dan 31,3% tembakan tepat sasaran, sedangkan Bellingham menyumbang 28,1% tembakan tepat sasaran. Angka-angka ini menunjukkan bahwa lini serang Inggris nyaris tidak berfungsi tanpa keduanya.
Fenomena ini bukan tanpa preseden dalam sejarah Inggris. Pada Piala Dunia 1990, Gary Lineker (4 gol) dan David Platt (3 gol) mencetak 87,5% gol Inggris, namun langkah mereka terhenti di semifinal setelah kalah adu penalti dari Jerman. Hal serupa terjadi di Euro 1996 ketika Alan Shearer (5 gol) dan Teddy Sheringham (2 gol) menyumbang 87,5% gol, lagi-lagi kandas di semifinal oleh Jerman. Pola ini menjadi peringatan bagi pelatih Thomas Tuchel bahwa ketergantungan berlebihan pada dua pemain bisa menjadi bumerang.
Namun, ada sisi lain yang patut dicatat. Tidak seperti Argentina yang bergantung pada Lionel Messi (70% gol) atau Norwegia yang mengandalkan Erling Haaland (63,6% gol), Inggris memiliki kemitraan yang saling melengkapi. Bellingham, yang 10 tahun lebih muda dari Kane, sudah mengoleksi enam tahun pengalaman internasional. Keduanya juga menjadi bagian dari kelompok kepemimpinan tim, dengan chemistry yang terlihat dari selebrasi khas yang sering mereka tiru satu sama lain.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, ketergantungan Inggris pada duet ini mengingatkan pada situasi Timnas Indonesia yang pernah sangat bergantung pada duet pemain naturalisasi di era tertentu. Pelajaran dari sejarah Inggris menunjukkan bahwa meskipun duet pemain bintang bisa membawa tim jauh, diversifikasi lini serang tetap krusial untuk menembus babak akhir turnamen. Inggris akan menghadapi ujian berat melawan Norwegia yang diperkuat Haaland di perempat final, dan pertanyaan besarnya: mampukah pemain lain seperti Marcus Rashford atau Phil Foden meringankan beban Kane dan Bellingham?



