Queiroz Tinggalkan Ghana Usai Gagal di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Carlos Queiroz mundur sebagai pelatih Ghana setelah tiga bulan menjabat, menyusul kekalahan dari Kolombia di babak 32 besar Piala Dunia.
- Pelatih asal Portugal itu tercatat sebagai satu-satunya arsitek yang memimpin lima tim berbeda di lima edisi Piala Dunia berturut-turut.
- Kepergian Queiroz menambah daftar panjang pergantian pelatih di Afrika, yang kerap memicu diskusi tentang stabilitas kepelatihan di kawasan tersebut.

Carlos Queiroz resmi mengakhiri masa baktinya sebagai pelatih tim nasional Ghana hanya tiga bulan setelah ditunjuk, menyusul kegagalan The Black Stars melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 2023. Langkah ini diambil setelah Ghana tersingkir di babak 32 besar oleh Kolombia dengan skor tipis 1-0, sebuah hasil yang dianggap mengecewakan mengingat ambisi besar yang diusung federasi sepak bola setempat.
Pelatih berusia 73 tahun itu mulai menangani Ghana pada April lalu dan berhasil membawa timnya finis di posisi ketiga Grup L. Namun, performa di fase gugur tidak sesuai harapan. Queiroz, yang sebelumnya sukses membawa Iran, Portugal, dan Mesir tampil di panggung dunia, mencatatkan diri sebagai pelatih yang memimpin di lima Piala Dunia berturut-turut—sebuah pencapaian langka yang menunjukkan pengalaman dan reputasinya di level internasional.
Keputusan Queiroz untuk mundur tidak hanya mengejutkan publik sepak bola Ghana, tetapi juga memicu pertanyaan tentang arah kepelatihan tim-tim Afrika. Di benua yang kerap mengalami pergantian pelatih secara cepat, kasus Queiroz menjadi contoh bagaimana tekanan hasil instan seringkali mengorbankan proyek jangka panjang. Federasi Sepak Bola Ghana (GFA) kini harus bergerak cepat mencari pengganti, mengingat jadwal kualifikasi Piala Dunia 2026 dan Piala Afrika 2025 sudah menanti.
Dalam konteks Indonesia, fenomena ini relevan dengan dinamika kepelatihan di Tanah Air. Sama seperti Ghana, Indonesia juga kerap berganti pelatih dalam waktu singkat, terutama setelah gagal di turnamen besar. Kasus Queiroz mengingatkan bahwa kesabaran dan konsistensi adalah kunci membangun tim yang kompetitif—sebuah pelajaran yang bisa diambil oleh PSSI dalam merancang program pembinaan jangka panjang.
Queiroz bukan satu-satunya pelatih yang meninggalkan kursinya pada hari yang sama. Yordania juga berpisah dengan Jamal Sellami setelah timnya finis keempat di Grup J. Dua peristiwa ini menandai gelombang evaluasi di kawasan Asia dan Afrika pasca-Piala Dunia. Pertanyaan besarnya: akankah Ghana memilih pelatih lokal atau kembali merekrut figur asing untuk membangun kembali skuad?



