Estafet Kepemimpinan Korlantas: Irjen Agus Pamit, Irjen Wibowo Siapkan Transformasi Digital
Baca dalam 60 detik
- Irjen Agus Suryonugroho resmi menyerahkan jabatan Kepala Korlantas Polri kepada Irjen Wibowo dalam upacara di NTMC Polri, Sabtu (4/7).
- Agus menitipkan tiga program prioritas—Polantas Menyapa, Digital Korlantas, dan Transformasi Digital—yang harus dilanjutkan untuk mendekatkan polisi lalu lintas ke masyarakat.
- Pergantian pucuk pimpinan ini diharapkan mempercepat modernisasi layanan lalu lintas berbasis digital di tengah tuntutan publik akan pelayanan yang transparan dan responsif.

Irjen Pol Agus Suryonugroho secara resmi melepas jabatan Kepala Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri kepada Irjen Pol Wibowo dalam upacara serah terima yang digelar di Lapangan NTMC Polri, Jakarta, Sabtu (4/7). Momen ini bukan sekadar rotasi rutin, melainkan penanda arah baru bagi institusi yang tengah berupaya merebut kembali kepercayaan publik melalui transformasi digital dan pendekatan humanis.
Dalam pidato perpisahannya, Agus mengakui bahwa masa kepemimpinannya tidak sempurna. Namun, ia menekankan bahwa sejumlah prestasi berhasil diraih berkat soliditas seluruh jajaran. “Banyak hal yang belum maksimal, tetapi berkat kebersamaan dan rasa memiliki, banyak prestasi yang dapat kita ukir,” ujarnya. Ia juga meminta maaf secara pribadi dan keluarga atas kebijakan atau tindakan yang mungkin kurang berkenan selama ia menjabat.
Agus menitipkan tiga program andalan kepada penerusnya: Polantas Menyapa, Digital Korlantas, dan Transformasi Digital. Menurut dia, program-program ini menjadi kunci untuk mengubah citra polisi lalu lintas dari yang kerap dianggap galak menjadi institusi yang dekat dan diterima masyarakat. “Yang paling penting, mari kita ubah wajah Polantas—dari pola sikap, perilaku, hingga cara berbicara,” pesannya.
Pergantian ini terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi publik terhadap pelayanan publik yang cepat dan transparan. Korlantas selama beberapa tahun terakhir gencar mendigitalisasi layanan, mulai dari perpanjangan SIM secara daring hingga sistem tilang elektronik (ETLE). Namun, tantangan masih membentang, terutama dalam hal pemerataan infrastruktur digital di daerah dan perubahan budaya kerja di lapangan.
Irjen Wibowo, yang sebelumnya menjabat Kapolda Jawa Timur, dikenal sebagai perwira dengan pengalaman luas di bidang operasional dan pembinaan. Ia diharapkan mampu melanjutkan estafet transformasi tanpa kehilangan momentum. “Saya optimis di bawah kepemimpinan Pak Bowo, Korlantas akan semakin maju,” kata Agus.
Dalam konteks Indonesia, perubahan pucuk pimpinan Korlantas memiliki dampak langsung pada 280 juta penduduk yang setiap hari bergantung pada layanan lalu lintas. Program Digital Korlantas misalnya, menjadi tulang punggung sistem tilang elektronik yang kini telah diterapkan di 34 provinsi. Jika berjalan mulus, integrasi data kendaraan dan SIM dapat memangkas waktu pengurusan administrasi hingga 50 persen.
“Saya mohon pamit, tetapi bukan untuk berpisah. Dalam estafet kepemimpinan sejatinya ada pengabdian dan pelayanan,” pungkas Agus. Pertanyaan kini beralih: mampukah Irjen Wibowo membawa Korlantas melampaui capaian pendahulunya, terutama dalam mewujudkan polantas yang benar-benar dekat dengan masyarakat?



