Setelah Mati Suri Lima Tahun, Pramono Resmikan Kembali Perpustakaan Nyi Ageng Serang
Baca dalam 60 detik
- Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang di Kuningan kembali beroperasi setelah vakum sejak 2020 akibat pandemi dan kendala operasional.
- Gubernur Pramono Anung menargetkan fasilitas ini menjadi pusat literasi baru bagi anak muda, dengan koleksi 55 ribu buku dan berbagai ruang modern.
- Pembukaan ini diharapkan mendorong minat baca warga Jakarta, seiring jam operasional panjang dari pagi hingga malam.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung secara resmi membuka kembali Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (7/7). Fasilitas ini sebelumnya tidak beroperasi sejak 2020 akibat pandemi Covid-19 dan masalah operasional, membuatnya nyaris 'mati suri' selama lima tahun.
Berlokasi di lahan seluas 4.000 meter persegi, perpustakaan ini menyimpan sekitar 55 ribu koleksi buku. Pramono optimistis tempat itu akan menjadi destinasi favorit bagi generasi muda Jakarta untuk memperdalam literasi. "Saya yakin tempat ini akan menjadi referensi baru bagi anak-anak kita yang ingin mencari, membaca, bertemu, dan sebagainya," ujarnya usai peresmian, dikutip dari Antara.
Pemprov DKI Jakarta berencana terus menambah koleksi buku agar perpustakaan ini semakin bermanfaat bagi pelajar dan mahasiswa. Selain buku, pengunjung dapat menikmati berbagai fasilitas modern, seperti ruang baca, area belajar dan kerja bersama, ruang lokakarya, bilik privat, bilik diskusi, bilik multimedia, kios katalog, loker, serta layanan sirkulasi dan bimbingan perpustakaan.
Kepala Perpustakaan Nasional, Endang Aminudin Aziz, mengapresiasi langkah Pemprov Jakarta. Menurutnya, pembukaan kembali perpustakaan ini menjadi titik baru pengembangan literasi masyarakat. "Saya yakin masyarakat Jakarta dan sekitarnya bisa memanfaatkan fasilitas yang sudah disediakan dengan baik," kata Endang.
Perpustakaan ini buka setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 22.00 WIB. Warga yang ingin mengakses layanan dan fasilitasnya diwajibkan menjadi anggota perpustakaan. Dengan jam operasional yang panjang, diharapkan semakin banyak pengunjung, terutama dari kalangan pelajar dan pekerja, yang bisa memanfaatkan waktu luang untuk membaca dan belajar.
Langkah revitalisasi ini menjadi sinyal positif bagi upaya meningkatkan minat baca di ibu kota. Namun, tantangan ke depan adalah memastikan koleksi buku terus diperbarui dan relevan dengan kebutuhan pengguna, serta menjaga kualitas layanan agar perpustakaan tidak kembali sepi seperti sebelum ditutup. Akankah Perpustakaan Nyi Ageng Serang mampu menjadi magnet literasi baru di tengah gempuran hiburan digital?



