Deschamps Jaga Sikap, Prancis Lolos Tipis dari Provokasi Paraguay
Baca dalam 60 detik
- Prancis menang 1-0 atas Paraguay di babak 16 besar Piala Dunia 2026, namun pertandingan diwarnai provokasi dan kartu kuning.
- Pelatih Didier Deschamps memilih tidak mengkritik gaya bermain Paraguay, meskipun timnya menerima tiga kartu kuning.
- Kylian Mbappe menjadi pahlawan lewat penalti, sementara Deschamps menegaskan fokusnya pada kemenangan tanpa memikirkan masa depan.

Pelatih tim nasional Prancis, Didier Deschamps, memilih untuk tetap tenang meskipun timnya harus melalui pertandingan panas melawan Paraguay di babak 16 besar Piala Dunia 2026. Dalam laga yang berlangsung di Philadelphia, Amerika Serikat, pada 4 Juli 2026, Prancis akhirnya menang tipis 1-0 berkat penalti Kylian Mbappe pada menit ke-70. Namun, pertandingan itu tidak hanya sengit dari segi skor, tetapi juga diwarnai provokasi dari kubu lawan yang membuat wasit asal Uzbekistan, Ilgiz Tantashev, mengeluarkan tiga kartu kuning untuk pemain Prancis.
Pertandingan yang digelar di bawah suhu terpanas sepanjang turnamen ini menjadi ujian mental bagi skuad Les Bleus. Paraguay, yang dikenal dengan pertahanan rapat, justru lebih banyak melakukan pelanggaran dan provokasi verbal. Meskipun demikian, Deschamps enggan menyalahkan lawan. "Saya tidak ingin mengkritik Paraguay. Setiap tim bermain dengan caranya sendiri. Tapi ada beberapa hinaan dari bangku cadangan mereka yang seharusnya tidak perlu terjadi," ujar Deschamps dalam konferensi pers usai pertandingan.
Kartu kuning yang diterima Manu Kone, Bradley Barcola, dan Michael Olise menjadi sorotan. Namun, yang menarik perhatian adalah sikap Mbappe yang mampu menghindari kartu meskipun terus diprovokasi. Deschamps menilai hal itu bukanlah sesuatu yang baru. "Media sering mengatakan dia telah berevolusi, tapi saya tidak ingin berbohong. Sejak hari pertama, dia sudah memiliki semangat seperti itu. Dia memberikan segalanya di lapangan dan berbicara untuk seluruh tim," kata Deschamps membela kaptennya yang berusia 27 tahun itu.
Penalti yang dicetak Mbappe berawal dari dribel brilian pemain pengganti Desire Doue yang memancing pelanggaran ceroboh Diego Gomez. Gol tersebut menjadi penentu kemenangan Prancis yang nyaris mengikuti jejak Jerman tersingkir lebih awal. Kekalahan akan mengakhiri masa kepelatihan Deschamps yang telah berlangsung selama 14 tahun. Namun, pelatih berusia 57 tahun itu mengaku tidak pernah memikirkan skenario terburuk. "Saya akan selalu berpikir positif. Bersama staf, kami akan melakukan segalanya untuk menang. Tapi ini sepak bola, kadang Anda kalah. Jika Anda sudah memberikan segalanya, kepala Anda akan tetap tenang," tegasnya.
Bagi Indonesia, pertandingan ini memberikan gambaran tentang pentingnya ketahanan mental dalam turnamen besar. Timnas Indonesia, yang tengah berjuang untuk tampil di Piala Dunia mendatang, bisa belajar dari cara Prancis menghadapi tekanan dan provokasi. Disiplin dan fokus menjadi kunci, seperti yang ditunjukkan Mbappe yang tetap tenang meskipun terus diganggu. Selain itu, kepemimpinan Deschamps yang tidak mudah terpancing emosi juga menjadi contoh bagi pelatih lokal dalam mengelola situasi panas di lapangan.
Ke depan, Prancis akan menghadapi lawan yang lebih berat di perempat final. Deschamps menegaskan timnya akan terus berjuang tanpa beban. "Saya tidak pernah memikirkan bahwa ini bisa menjadi pertandingan terakhir saya. Yang penting adalah bagaimana kami bisa memenangkan pertandingan berikutnya," pungkasnya. Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah Prancis mempertahankan konsistensi di tengah tekanan yang semakin besar?



