Julián Quiñones: Dari Kolombia ke Meksiko, Kini Jadi Mimpi Buruk Inggris
Baca dalam 60 detik
- Pemain sayap Meksiko kelahiran Kolombia, Julián Quiñones, menjadi ancaman utama bagi Inggris di babak 16 besar Piala Dunia 2026.
- Quiñones telah mencetak tiga gol dan satu assist dalam empat laga, memecahkan rekor kontribusi gol Meksiko di satu edisi Piala Dunia.
- Perjalanan kariernya yang tak lazim—dari kampung miskin di Kolombia hingga top skor Liga Saudi—menjadi cerita inspiratif di balik performa gemilangnya.

Julián Quiñones, pemain sayap Meksiko yang lahir di Kolombia, siap menjadi momok bagi timnas Inggris dalam laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Stadion Azteca, Senin (30/6) dini hari WIB. Dengan tiga gol dan satu assist dalam empat pertandingan, ia menjadi pemain Meksiko pertama yang terlibat langsung dalam empat gol di satu edisi Piala Dunia sejak data dicatat pada 1966.
Quiñones, 29 tahun, bukanlah nama asing bagi penggemar sepak bola Meksiko. Namun, perjalanannya menuju status pahlawan nasional sungguh tidak biasa. Lahir di Magüí Payán, sebuah desa terpencil di selatan Kolombia dekat perbatasan Ekuador, ia tumbuh dalam kemiskinan. Pada usia 17 tahun, ia meninggalkan klub amatirnya, Fútbol Paz, untuk bergabung dengan Tigres UANL di Meksiko. "Saya ragu saat meninggalkan negara saya untuk mengejar tujuan baru," kenangnya dalam sebuah wawancara. Kini, ia memiliki istri dan anak-anak Meksiko, serta menganggap Meksiko sebagai "negaraku".
Selama delapan tahun di Meksiko, Quiñones membela Tigres, Atlas, dan Club América, serta menjalani tiga masa peminjaman. Ia mencetak lebih dari 70 gol di liga utama Meksiko, namun panggilan dari tim nasional Kolombia tak kunjung tiba. Baru pada 2023, ketika ia memenuhi syarat naturalisasi, Meksiko memanggilnya. "Meksiko membuat saya menjadi pribadi yang hebat," ujarnya. "Saya akan selalu berterima kasih."
Setelah kurang dari setahun menjadi pemain internasional Meksiko, Quiñones hengkang ke Al-Qadsiah di Liga Saudi dengan nilai transfer sekitar £12 juta. Di sana, ia langsung menjadi mesin gol: 62 gol dalam 68 laga, termasuk gelar top skor Liga Saudi musim lalu dengan 33 gol. Ia mengungguli Ivan Toney (32 gol) dan Cristiano Ronaldo (29 gol), meskipun timnya hanya finis keempat. Performa itu ia bawa ke Piala Dunia, di mana ia menjadi pemain pertama yang mencetak gol pembuka turnamen dan kemudian dinobatkan sebagai pemain terbaik dalam dua laga.
Bagi Inggris, Quiñones menjadi ancaman serius di sisi kiri, terutama mengingat posisi bek kanan yang masih menjadi perdebatan. Kecepatan dan ketajamannya di ketinggian Kota Meksiko bisa menjadi mimpi buruk. Pelatih Gareth Southgate harus memikirkan strategi untuk meredam pemain yang dijuluki "pahlawan tak terduga" ini. Sementara itu, Quiñones optimistis: "Tim kami lengkap dan kompetitif. Kami tahu tujuan kami dan percaya bisa meraihnya."
Pertandingan ini akan menjadi ujian sejati bagi ambisi Meksiko melaju ke perempat final. Jika Quiñones kembali bersinar, bukan tidak mungkin ia akan dikenang sebagai legenda yang membawa Meksiko melangkah lebih jauh. Namun, Inggris yang diperkuat lini depan tajam juga punya peluang besar. Siapa yang akan keluar sebagai pemenang dari duel Azteca yang mendebarkan ini?



