Manzambi Jadi Motor Kebangkitan Swiss: Akhir Penantian 88 Tahun di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Johan Manzambi, gelandang 20 tahun, menjadi penggerak utama kemenangan Swiss 2-0 atas Aljazair yang mengantarkan mereka ke babak 16 besar Piala Dunia.
- Kemenangan ini memutus puasa 88 tahun Swiss tanpa kemenangan di fase gugur, setelah sebelumnya selalu tersingkir di babak 16 besar pada empat edisi terakhir.
- Performa Manzambi yang serbabisa mendapat pujian dari pelatih Murat Yakin, dan ia diprediksi akan menjadi andalan Swiss di laga selanjutnya melawan Kolombia atau Ghana.

Swiss akhirnya memecahkan kutukan 88 tahun tanpa kemenangan di babak gugur Piala Dunia setelah menundukkan Aljazair 2-0 di Vancouver, Kamis (2/7). Di balik keberhasilan itu, nama Johan Manzambi mencuri perhatian. Gelandang berusia 20 tahun itu menjadi arsitek gol pembuka dan tampil sebagai motor serangan yang merepotkan pertahanan lawan.
Bagi Swiss, kemenangan ini lebih dari sekadar lolos ke babak 16 besar. Sejak 1938, mereka belum pernah merasakan kemenangan di fase knockout turnamen sepak bola terbesar dunia. Empat kali tersingkir di babak yang sama pada 2006, 2014, 2018, dan 2022 menjadi luka yang akhirnya terobati. Kini, langkah mereka terhenti di perempat final sejak 1954, dan ambisi untuk menyamai prestasi itu kembali hidup.
Manzambi, yang sebelumnya sudah mencetak tiga gol dan satu assist di fase grup, kembali dipercaya pelatih Murat Yakin sebagai starter. Ia membalas kepercayaan itu dengan aksi brilian di menit awal. Menerima bola di sisi kiri, ia menusuk ke dalam sebelum melepaskan umpan silang rendah yang disontek Breel Embolo menjadi gol. Momen itu menjadi bukti kematangan pemain yang baru pertama kali tampil di Piala Dunia.
Setelah unggul, Swiss beralih ke formasi lima gelandang, memberi Manzambi kebebasan bergerak. Ia tidak hanya produktif menyerang, tetapi juga rajin membantu pertahanan. Yakin memuji fleksibilitas dan ketenangannya. "Dia bisa dimainkan di posisi mana pun. Sangat serbabisa dan percaya diri," ujar Yakin dalam konferensi pers. "Kecepatannya membawa bola luar biasa. Ia menemukan situasi bagus dua atau tiga kali. Namun, seiring berjalannya pertandingan, tugas defensifnya makin berat. Tapi dia tetap kuat membawa bola dan mengirim umpan sejauh 60 meter."
Kemenangan ini juga menjadi sinyal kebangkitan sepak bola Swiss yang kerap dianggap sebagai tim "kuda hitam" namun gagal di momen krusial. Dengan materi pemain seperti Granit Xhaka, Denis Zakaria, dan Remo Freuler, ditambah kilau Manzambi, Swiss kini layak diperhitungkan. Bagi Indonesia, kisah Manzambi bisa menjadi inspirasi: pemain muda yang berani mengambil peran besar di panggung global, tanpa takut tekanan sejarah.
Langkah Swiss selanjutnya akan diuji oleh pemenang laga Kolombia versus Ghana. Jika mampu melewati hadangan tersebut, bukan tidak mungkin mimpi mencapai semifinal untuk pertama kalinya sejak 1954 akan terwujud. Pertanyaannya, akankah Manzambi kembali menjadi pembeda di laga hidup mati berikutnya?



