55 Kota Unjuk Kebudayaan di Medan: Wamendagri Sebut Simbol Kolaborasi Daerah
Baca dalam 60 detik
- Festival Karnaval Budaya Nusantara di Medan diikuti 55 kota, menunjukkan sinergi antarpemerintah daerah.
- Wamendagri Bima Arya menilai acara ini bukti nyata semangat gotong royong dalam melestarikan budaya lokal.
- Kegiatan yang digelar di tengah hujan ini menjadi ajang promosi pariwisata dan identitas daerah di kancah nasional.

Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menyebut partisipasi 55 kota dalam Festival Karnaval Budaya Nusantara sebagai bukti nyata menguatnya semangat kolaborasi antardaerah di Indonesia. Acara yang digelar di Lapangan Merdeka, Medan, pada Kamis (2/7) itu menjadi salah satu rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI).
Mengusung tema "The Sparkling of Local Heroes and Culture", festival ini menampilkan kekayaan budaya dari berbagai penjuru Nusantara. Bima mengapresiasi Pemerintah Kota Medan yang dinilai sukses menyelenggarakan acara spektakuler meskipun diguyur hujan deras. "Antusiasme peserta dan warga yang memadati lokasi membuktikan bahwa budaya kita tetap hidup dan relevan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (3/7).
Bima bersama Wali Kota Medan Rico Waas, Ketua APEKSI Eri Cahyadi, dan sejumlah kepala daerah lainnya memilih bertahan di tengah gerimis untuk menyaksikan penampilan para peserta. Menurut Bima, semangat para peserta yang tidak bergeser meski hujan mengguyur mencerminkan kekompakan dan sinergi antarkota dalam menjaga serta memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara. "Ini adalah simbol bahwa kota-kota Indonesia terus bergerak maju dan berkolaborasi," pungkasnya.
Festival ini tidak hanya menjadi ajang unjuk kebudayaan, tetapi juga ruang bagi pemerintah kota untuk mempererat kebersamaan. Bima menekankan bahwa kolaborasi semacam ini penting untuk memperkuat identitas daerah di tengah arus globalisasi. "Kita ingin pahlawan lokal dan nilai-nilai budaya tampil memukau di mata dunia," tambahnya.
Kehadiran puluhan ribu warga yang memadati lokasi acara menunjukkan antusiasme publik terhadap pelestarian budaya. Meskipun cuaca kurang bersahabat, para peserta tetap menampilkan tarian kolosal dan atraksi budaya lainnya. Hal ini dinilai sebagai bukti bahwa semangat kebudayaan tidak surut oleh kondisi alam.
Ke depan, diharapkan festival serupa dapat terus digelar secara rutin untuk memperkuat sinergi antarkota dan mempromosikan pariwisata daerah. Pertanyaannya, apakah kolaborasi ini akan berlanjut dalam bentuk program konkret, seperti pertukaran seniman atau paket wisata budaya antarkota?



