PDIP: Klaim Jokowi Tak Tahu Prosesi Injak Kepala Kerbau Tidak Masuk Akal
Baca dalam 60 detik
- PDIP menilai pengakuan Jokowi tidak mengetahui adanya prosesi adat injak kepala kerbau di Lampung sebagai bentuk ketidakjujuran.
- Deddy Sitorus mengklaim Jokowi justru menjadi ketua panitia acara adat tersebut, bukan sekadar tamu undangan.
- PSI membantah tudingan tersebut dan menyebut Jokowi hanya mengikuti arahan tetua adat setempat.

Ketua DPP PDIP, Deddy Sitorus, menilai pernyataan Presiden ke-7 Joko Widodo yang mengaku tidak mengetahui akan ada prosesi menginjak kepala kerbau dalam safari politiknya di Lampung sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Menurut Deddy, informasi yang ia terima justru menunjukkan bahwa Jokowi berperan sebagai ketua panitia dalam acara adat tersebut.
"Yang saya dengar, Jokowi jadi ketua panitia kegiatan itu. Jadi sangat tidak masuk akal kalau dia bilang tidak tahu akan ada drama sinetron soal injak-menginjak itu," ujar Deddy di Jakarta, Jumat (3/7). Ia menambahkan bahwa pernyataan dari PSI yang membela Jokowi sulit dibuktikan kebenarannya.
Deddy menuding mantan gubernur DKI Jakarta itu sengaja memanfaatkan tradisi lokal untuk kepentingan politik dinasti. "Dia memang harus melakukan semua cara apa pun untuk memelihara dinastinya. Dan itu sudah ciri khas dan karakter seorang Jokowi," tegasnya. Menurut Deddy, Jokowi bahkan disebut-sebut sebagai pihak yang membuat dan memviralkan acara tersebut.
Sementara itu, Ketua DPP PSI Bestari Barus memberikan versi berbeda. Ia mengklaim Jokowi tidak mengetahui akan ada kepala kerbau saat prosesi berlangsung. "Beliau sempat bergumam, 'Wah, saya ndak tahu kalau ada kepala itu, kerbau'. Begitu naik panggung, beliau melihat ada kepala kerbau dan disuruh duduk di depannya," kata Bestari. Ia menambahkan bahwa Jokowi sudah memprediksi acara itu akan ramai diperbincangkan.
Bestari menekankan bahwa partisipasi Jokowi dalam prosesi adat semata-mata untuk menghormati tradisi setempat. "Pak Jokowi tidak sedang main sinetron di situ, tapi sesuai dengan apa yang diarahkan para tetua adat," ujarnya. Ia menyerahkan penilaian kepada masyarakat terkait makna dari prosesi tersebut.
Prosesi menginjak kepala kerbau sendiri merupakan bagian dari tradisi sakral budaya Lampung yang telah berlangsung ratusan tahun. Budayawan Lampung, Admi Syarif, menjelaskan bahwa tradisi ini memiliki makna simbolis yang dalam bagi masyarakat setempat. Namun, dalam konteks politik, acara ini memicu perdebatan publik tentang batasan antara adat dan kepentingan politik.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah tradisi adat seperti ini akan terus digunakan sebagai alat politik, atau justru dijaga kemurniannya oleh para pemangku adat. Masyarakat pun menanti klarifikasi lebih lanjut dari Jokowi dan pihak terkait untuk mengakhiri polemik yang berkepanjangan.



