Matt Bellamy: Rahasia Awetnya Muse Selama 30 Tahun Karena Tak Pernah Ikut Tren
Baca dalam 60 detik
- Vokalis Muse, Matt Bellamy, mengungkapkan bahwa bandnya mampu bertahan lebih dari tiga dekade karena tidak pernah mengikuti tren musik populer.
- Bellamy menyebut Muse sebagai 'definisi alternatif' yang justru menjadi keunggulan di tengah maraknya Britpop, nu-metal, dan gelombang retro rock.
- Pertemuan dengan Jack White dan Albert Hammond Jr. di Coachella memperkuat keyakinan bahwa grup-grup era 2000-an yang bertahan adalah yang berani berbeda dari arus utama.

Matt Bellamy, vokalis dan gitaris Muse, meyakini bahwa umur panjang bandnya—lebih dari 30 tahun—berakar pada satu hal: mereka tidak pernah menjadi bagian dari tren mode musik apa pun. Dalam wawancara terbaru dengan NME, Bellamy menyebut posisi unik Muse sebagai 'definisi alternatif' justru menjadi tameng dari keusangan yang kerap menimpa grup yang terlalu melekat pada satu gelombang popularitas.
Menurut Bellamy, ketika Muse muncul pada pertengahan 1990-an, panggung musik dihiasi tiga aliran besar: akhir era Britpop di Inggris, nu-metal yang mendominasi Amerika Serikat, serta kebangkitan rock retro yang dipelopori The Strokes dan The White Stripes. "Kami tidak cocok dengan semua itu," ujarnya. "Dan ternyata itu adalah berkah. Menemukan penonton tanpa menjadi bagian dari tren adalah sesuatu yang luar biasa. Itulah mengapa kami masih ada di sini."
Filosofi 'tidak pernah cukup modis' ini, lanjut Bellamy, membuat Muse luput dari siklus popularitas yang cepat berlalu. "Kami tidak pernah cukup 'in fashion' sehingga ketika sorotan pindah, kami selesai," katanya. Pendekatan ini kontras dengan banyak band yang muncul bersamaan dan kemudian memudar setelah tren berganti. Bagi pengamat industri musik, pernyataan Bellamy menegaskan bahwa keberlanjutan karier di era digital sering kali ditentukan oleh identitas yang kokoh, bukan sekadar mengikuti selera pasar sesaat.
Bellamy juga menceritakan momen reflektif saat bertemu Jack White (The White Stripes) dan Albert Hammond Jr. (The Strokes) di Coachella. "Kami saling berkata, 'Kami masih di sini! Kami gitaris dari tahun 2000-an! Kami berhasil!'" kenangnya. Meski demikian, ketika ditanya kemungkinan membentuk supergrup, Bellamy menolak dengan bercanda karena merasa akan dipermalukan oleh kemampuan teknis White. Ia mengakui bahwa White adalah gitaris utama sejati yang berani memainkan solo rumit, sementara dirinya lebih fokus pada vokal dan komposisi.
Bagi penikmat musik Indonesia, kisah Muse menawarkan pelajaran berharga tentang autentisitas. Di tengah industri musik Tanah Air yang kerap didikte tren—dari pop melayu hingga indie folk—band seperti .Feast atau Barasuara mungkin bisa meniru resep Muse: tidak perlu menjadi yang terpopuler, asalkan konsisten dengan suara sendiri. Pertanyaan yang muncul kemudian: akankah grup-grup alternatif Indonesia mampu bertahan selama tiga dekade tanpa mengejar arus utama?



