Ibu-Ibu Paling Kritis terhadap Ibu Lain: Ketika Ruang Dukungan Berubah Jadi Ajang Penghakiman
Baca dalam 60 detik
- Fenomena ibu saling menghakimi pilihan pengasuhan anak dipicu oleh kelelahan dan kebutuhan validasi, bukan sekadar perbedaan pendapat.
- Budaya kompetisi yang sudah mengakar di kalangan perempuan membuat setiap keputusan parenting dianggap sebagai ujian moral.
- Para ahli menyarankan agar ibu membedakan antara nasihat konstruktif dan penghakiman, serta mengingat bahwa setiap keluarga memiliki kondisi unik.

Menjadi ibu bukanlah perlombaan atau ujian, namun kenyataannya banyak perempuan justru saling menilai seolah sedang mengoreksi lembar jawab. Seorang ibu yang memilih metode tidur berbeda, memberikan gawai saat anak rewel, atau bepergian tanpa buah hati kerap mendapat komentar pedas dari sesama ibu. Fenomena ini bukan sekadar perbedaan pendapat, melainkan cerminan tekanan sosial yang membuat para ibu merasa perlu membuktikan diri sebagai yang terbaik.
Dalam sebuah grup WhatsApp beranggotakan lebih dari 700 ibu hamil dengan perkiraan tanggal melahirkan yang sama, penulis artikel ini menyaksikan sendiri bagaimana perbedaan kecil—mulai dari merek popok hingga praktik pantang—bisa memicu perdebatan sengit. Hanya dalam sepekan, seorang anggota yang bertanya soal destinasi babymoon dituduh tidak bertanggung jawab. Perdebatan itu berujung pada hujatan dan penilaian tentang siapa yang pantas disebut "ibu yang baik". Penulis akhirnya keluar dari grup tersebut, namun atmosfer penghakiman terus menghantuinya di berbagai forum, termasuk media sosial.
Jackie Li, seorang terapis wicara berusia 38 tahun dan ibu satu anak, berpendapat bahwa para ibu cenderung "over-functioning"—memikul terlalu banyak peran tanpa mendapat pengakuan atau istirahat yang cukup. Kelelahan ini mendorong mereka untuk mengejar kesempurnaan dan mengontrol segala hal. Ketika melihat ibu lain melakukan pendekatan berbeda, menghakimi menjadi cara cepat untuk merasa lebih baik dan mendapatkan validasi. "Kami melihat ibu lain yang 'salah' dan berpikir, 'Syukurlah, aku tidak seperti itu'," ujarnya.
Fenomena ini tidak lepas dari budaya kompetisi yang sudah lama dialami perempuan—di tempat kerja, dalam hubungan, penampilan, hingga ambisi. Amanda Ong, pendiri kelompok Mindful Mamas, menambahkan bahwa banyak ibu memberi nasihat tanpa diminta karena metode mereka dianggap berhasil. Namun, masalah muncul ketika nasihat itu disampaikan dengan nada menghakimi, seperti "Itu tidak benar, seharusnya kamu lakukan ini" atau "Aku tidak akan pernah melakukan itu".
Penghakiman mengasumsikan bahwa semua anak sama dan setiap orang tua memiliki nilai, sumber daya, serta keadaan yang identik. Padahal, pola asuh adalah respons terhadap kebutuhan anak yang tidak terduga dan berbeda-beda, bahkan dalam satu keluarga. Seorang anak yang menyukai rutinitas membutuhkan pendekatan berbeda dari anak yang membenci jadwal. Ibu dengan dukungan keluarga akan membuat pilihan yang berbeda dari ibu yang mengasuh seorang diri. Orang tua dengan pekerjaan fleksibel dan gaji tinggi jelas memiliki lebih banyak opsi dibandingkan mereka yang bekerja dengan jam kaku dan penghasilan lebih rendah.
Di Indonesia, tekanan sosial terhadap ibu juga terasa kuat. Unggahan di media sosial tentang pilihan ASI versus susu formula, sekolah versus homeschooling, atau penggunaan gawai seringkali dibanjiri komentar bernada menghakimi. Budaya gotong royong dan nasihat dari orang tua atau tetangga kerap disampaikan tanpa diminta, dan jika tidak sesuai ekspektasi, bisa menimbulkan rasa bersalah pada ibu. Padahal, seperti diungkapkan Nabilah Moen, "Terkadang apa yang terlihat seperti pengasuhan yang buruk dari luar hanyalah ibu yang membuat pilihan terbaik dari pilihan yang terbatas."
Penulis artikel ini mengakui bahwa dirinya pun tidak lepas dari sikap menghakimi. Namun, ia menawarkan introspeksi sebelum berkomentar: apakah ini demi keselamatan anak, atau karena pilihan ibu lain membuat kita tidak aman? Apakah kita menawarkan bantuan atau sekadar ingin merasa superior? Alih-alih mengkritik, langkah terbaik adalah menerima nasihat, meninggalkan penghakiman, dan lebih fokus pada anak di depan kita.
Pertanyaan yang tersisa: mampukah para ibu mengubah ruang komunitas dari ajang penilaian menjadi tempat saling mendukung, di mana perbedaan dirayakan dan setiap ibu merasa cukup dengan pilihannya sendiri?



