Harimau Sumatera: Lebih Banyak Tidur daripada Agresif, Mitos vs Fakta di Tengah Ancaman Kepunahan
Baca dalam 60 detik
- Populasi harimau sumatera diperkirakan tersisa 400โ600 individu di alam liar, terancam deforestasi dan perburuan ilegal.
- Penelitian terbaru menunjukkan harimau sumatera menghabiskan hampir separuh waktunya untuk tidur dan cenderung menghindari manusia, bertolak belakang dengan stigma agresif yang melekat.
- Kearifan lokal masyarakat Sumatera memanggil harimau dengan sebutan 'nenek' sebagai bentuk penghormatan, namun konflik tetap terjadi akibat penyempitan habitat.

Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) kerap dianggap sebagai hewan agresif yang mengancam pemukiman, namun fakta ilmiah justru membantah stigma tersebut. Subspesies endemik terakhir di Indonesia ini lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur dan secara alami menghindari manusia โ konflik yang muncul lebih sering dipicu oleh aktivitas manusia yang merusak habitatnya.
Alih fungsi lahan menjadi perkebunan, pemukiman, dan pertambangan telah memecah belah kawasan jelajah harimau sumatera. Tiga benteng utama habitatnya โ Kawasan Ekosistem Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat, dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan โ kini terus menyempit. Akibatnya, perjumpaan dengan harimau di luar hutan makin sering terjadi, memicu persepsi keliru bahwa satwa ini siap menyerang kapan saja.
Penelitian Universitas Negeri Padang (2024) mengungkap bahwa harimau sumatera menghabiskan 47 hingga 50 persen waktunya untuk beristirahat dan tidur, terutama di siang hari saat suhu habitat tropis mencapai puncaknya. Aktivitas berburu justru dilakukan pada malam hari, menjadikannya hewan nokturnal. Temuan ini menepis gambaran harimau sebagai pemburu tanpa henti yang selalu waspada.
Secara fisik, harimau sumatera merupakan subspesies harimau terkecil di dunia. Jantan memiliki bobot 100โ140 kilogram dengan panjang tubuh 140โ280 sentimeter, sementara betina lebih kecil dengan panjang 80โ90 sentimeter. Lorengnya lebih padat dan gelap dibanding subspesies lain, sebagai adaptasi terhadap hutan hujan tropis di garis khatulistiwa.
Menariknya, masyarakat Sumatera memiliki kearifan lokal yang justru menghormati harimau. Di Sumatera Selatan dan Jambi, harimau sering dipanggil โnenekโ โ sebutan yang lazim digunakan untuk orang tua sebagai bentuk penghormatan. Tradisi lisan ini menunjukkan bahwa secara kultural, harimau dipandang sebagai sosok yang harus dilindungi, bukan dibasmi. Namun, tekanan ekonomi dan perluasan lahan kerap mengabaikan nilai-nilai tersebut.
Ancaman terbesar justru datang dari perburuan liar dan perdagangan ilegal bagian tubuh harimau. Hukuman yang ada dinilai belum memberikan efek jera, sementara jerat hewan yang dipasang sembarangan juga banyak memakan korban. Para ahli menyarankan pembangunan koridor satwa, patroli jerat rutin, dan pengawasan ketat sebagai langkah penyelamatan. Tanpa intervensi serius, nasib harimau sumatera bisa mengikuti jejak harimau jawa dan harimau bali yang telah punah.
Pertanyaan kunci yang tersisa: akankah kesadaran ekologis dan penegakan hukum mampu mengimbangi laju deforestasi, atau harimau sumatera hanya akan menjadi cerita bagi generasi mendatang?



